Pemprov DKI Perkuat Model Pilah-Angkut-Olah Sampah di Srengseng Sawah
- 28 Sep 2026 21:30 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat model pengelolaan sampah berbasis sumber di RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan mendampingi lebih dari 400 rumah melalui sistem pilah-angkut-olah yang terintegrasi sebagai bagian dari implementasi Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026.
Program tersebut dikembangkan melalui Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan Hidup Klaster Persampahan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan perguruan tinggi. Pendampingan dilakukan secara door to door di RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan pembiayaan dari APBD, sehingga diperlukan dukungan berbagai pihak untuk memperkuat sistem yang sudah berjalan di masyarakat.
“Pengelolaan sampah tidak mungkin hanya dikerjakan pemerintah sendiri dan tidak harus seluruhnya bertumpu pada APBD. Pemerintah menyiapkan arah kebijakan dan sistem, masyarakat berperan dari sumber, sementara dunia usaha, komunitas, dan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing,” ujar Dudi, di Jakarta, Senin, 28 September 2026.
Menurutnya, warga Srengseng Sawah telah menjalankan pemilahan sampah sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026. Melalui program tersebut, praktik yang sudah ada diperkuat agar menjadi model pengelolaan yang lebih konsisten dan dapat diterapkan di wilayah lain.
Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, menjelaskan penguatan program tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku warga, tetapi juga memastikan seluruh rantai pengelolaan sampah berjalan terhubung.
“Warga memilah dari rumah, sampah dikumpulkan secara terpisah, diangkut secara terpilah, kemudian diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya. Jadi, yang dibangun bukan hanya perilaku memilah, tetapi sistemnya,” kata Purwanti.
Dalam pendampingan tersebut, warga memperoleh edukasi sekaligus sarana untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah organik, terutama sisa makanan, kemudian dikumpulkan dan diangkut secara terpisah menuju fasilitas pengolahan agar tidak kembali tercampur.
Purwanti menambahkan model tersebut dikembangkan melalui pendekatan co-design, yakni melibatkan warga, pemerintah, mitra swasta, komunitas, dan perguruan tinggi dalam merancang sistem pengelolaan yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan, Iwan Santoso, mengatakan praktik pemilahan sampah dari sumber terus diperluas di wilayahnya. Saat ini sekitar 21.000 rumah di Jakarta Selatan telah menerapkan pemilahan sampah, didukung fasilitas pengolahan organik seperti biopori jumbo dan teba modern.
Menurut Iwan, pendampingan langsung ke rumah warga menjadi salah satu cara untuk memastikan masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pemilahan sampah, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....