CFD Jakarta Dua Kali Sepekan, Perlukah dan Apa Risikonya?

  • 15 Sep 2026 12:27 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • CFD dua kali sepekan dinilai berpotensi memperluas ruang olahraga, interaksi warga, dan penggunaan transportasi umum.
  • Dampak CFD terhadap kualitas udara perlu dibuktikan melalui inventarisasi emisi dan pengukuran yang konsisten.
  • Pemerintah perlu menyiapkan transportasi umum, rekayasa lalu lintas, sosialisasi, serta dukungan anggaran sebelum memperluas CFD.

RRI.CO.ID, Jakarta – Usulan menggelar Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) dua kali sepekan di Jakarta membuka perdebatan yang lebih luas dari sekadar penutupan jalan. Di balik wacana CFD pada Sabtu dan Minggu, ada pertanyaan tentang seberapa besar dampaknya terhadap kualitas udara, perpindahan lalu lintas, penggunaan transportasi umum hingga kesehatan warga.

Yayat Supriatna, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Trisakti, menilai pelaksanaan Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor dua kali sepekan dapat menjadi momentum membangun budaya berjalan kaki, menggunakan transportasi umum, dan memanfaatkan ruang publik di Jakarta. (Foto:RRI/Sony)

Bukan Sekadar Menutup Jalan

CFD selama ini identik dengan jalan protokol yang berubah menjadi ruang olahraga dan aktivitas warga tanpa kendaraan bermotor pada pagi hari. Di Jakarta, CFD berlangsung setiap Minggu di kawasan Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said, sementara setiap kota administrasi juga telah memiliki ruang untuk kegiatan serupa.

Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna menilai penambahan hari CFD layak dipertimbangkan apabila pemerintah dapat membuktikan manfaatnya. “Kalau makin baik, kenapa harus ragu?” ujar Yayat dalam wawancara dengan Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Yayat, CFD tidak semestinya dipandang hanya sebagai pembatasan kendaraan pribadi. Ia melihat kegiatan tersebut sebagai instrumen untuk membangun kebiasaan baru warga, mulai dari berjalan kaki, berolahraga, menggunakan angkutan umum, hingga memanfaatkan ruang publik.

“Car Free Day itu adalah struktur yang membangun kultur,” kata Yayat. Baginya, jalan yang sementara bebas kendaraan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebijakan transportasi, kesehatan, ekonomi lokal, dan kehidupan sosial warga.

Ilustrasi kepadatan mobil, bus, dan sepeda motor di salah satu ruas jalan Jakarta. (Foto: Dapur Melodi/Pexels)
Seberapa Besar Dampaknya terhadap Udara?

Pertanyaan terbesar justru berada pada kualitas udara. CFD memang mengurangi kendaraan bermotor pada koridor tertentu selama beberapa jam, tetapi pengurangan aktivitas kendaraan di satu ruas belum otomatis berarti kualitas udara seluruh Jakarta membaik.

Community Specialist Bicara Udara Primadita Rahma mengingatkan perlunya melihat inventarisasi emisi sebelum menyimpulkan dampak CFD. “Sebenarnya kita perlu belajar dulu tentang emisinya, maksudnya inventarisasi emisi,” ucap Primadita dalam wawancara dengan Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Primadita, pemerintah perlu membandingkan kondisi udara sebelum dan ketika CFD berlangsung, sekaligus melihat kemungkinan perpindahan kendaraan ke ruas lain. Jika kendaraan hanya menghindari koridor CFD dan menumpuk di jalan alternatif, manfaat terhadap kualitas udara harus dihitung kembali.

“Kalau berkurang, ada sesuatu yang bisa kita pelajari. Kalau enggak berkurang, kita juga bisa mempelajari sesuatu,” kata Primadita. Karena itu, ia menilai CFD dapat menjadi bagian dari pembelajaran kebijakan kawasan rendah emisi, bukan sekadar kegiatan rutin mingguan.

CFD bukan cuma soal jalan bebas kendaraan. Ada olahraga, ruang publik, transportasi umum, sampai peluang menguji seberapa besar dampaknya terhadap udara Jakarta. (Foto: Arsip RRI)
Jalan Ditutup, Kendaraan Pindah ke Mana?

Persoalan lain yang tersembunyi adalah potensi perpindahan polusi. Apakah penutupan ruas utama serta-merta menghilangkan perjalanan kendaraan, sebab sebagian warga tetap harus bepergian dan dapat memilih jalan alternatif.

Primadita mengatakan fenomena itu perlu diperiksa secara serius, terutama ketika CFD berdekatan dengan kawasan permukiman atau pusat kegiatan lain. “Apakah misalnya di daerah-daerah yang memang ada CFD-nya, kemudian terjadi penumpukan kendaraan di daerah-daerah lain?” ujarnya.

Karena itu, keberhasilan CFD menurut Bicara Udara tidak cukup diukur dari jumlah orang yang berjalan kaki di ruas utama. Pemerintah juga perlu melihat volume kendaraan di jalan alternatif, perubahan pola perjalanan, kualitas udara di sekitar kawasan, serta jumlah warga yang beralih ke transportasi umum.

Transportasi Umum Harusnya menjadi Pilihan

Perluasan CFD juga akan menguji kesiapan sistem transportasi publik Jakarta. Yayat menilai kebijakan itu akan lebih mudah diterima jika warga memperoleh pilihan perjalanan yang murah dan mudah selama jalan utama ditutup.

“Dibudayakan saja pada hari Car Free Day itu naik MRT, naik TJ, tarifnya Rp1.000. Kan keren,” ujar Yayat. Menurut dia, skema transportasi umum yang mudah diakses dapat mengubah CFD dari sekadar kegiatan olahraga menjadi momentum peralihan perilaku mobilitas.

Primadita juga menilai akses transportasi umum perlu menjadi bagian dari kajian. Warga yang datang ke CFD memiliki kebutuhan berbeda, sehingga pemerintah perlu menjelaskan rute TransJakarta, Mikrotrans, MRT, dan moda lainnya agar warga tidak merasa harus membawa kendaraan pribadi hingga mendekati lokasi.

Manfaat Kesehatan dan Ekonomi

Yayat melihat manfaat CFD tidak berhenti pada persoalan emisi. Menurut dia, ruang publik yang bebas kendaraan dapat mendorong warga berjalan kaki dan berolahraga, sekaligus membuka ruang bagi promosi kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Jadi hari Car Free Day itu adalah hari kebahagiaan, bukan hari penderitaan,” kata Yayat. Ia membayangkan CFD dimanfaatkan untuk pemeriksaan kesehatan, promosi program pemerintah, kegiatan komunitas, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dibagian lain Primadita justru melihat adanya peluang ekonomi dari aktivitas masyarakat di kawasan CFD. Ia menyebut kegiatan lari dan aktivitas komunitas dapat menciptakan aktivitas ekonomi, termasuk melalui apa yang disebut sebagai sport economy.

Gubernur Jakarta, Pramono Anung. Foto: RRI/Penta Maydita
Pramono Tak Ingin Buru-buru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengatakan usulan CFD Sabtu dan Minggu sedang dibahas secara internal dan belum diputuskan. Ia juga menjelaskan bahwa CFD Jakarta saat ini berlangsung di Sudirman-Thamrin pada Minggu pukul 06.00 sampai 10.00 WIB dan Rasuna Said pukul 06.00 sampai 09.00 WIB.

“Car Free Day memang di Jakarta ini hampir di semua kota ada. Tetapi yang selalu menjadi pertanyaan dasar adalah di Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said. Karena ini saya tidak ingin terlalu buru-buru (memutuskan),” kata Pramono saat ditemui setelah meninjau pembangunan proyek di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin seperti dilansir kantor berita Antara..

Untuk itu, ia meminta agar usulan tersebut dapat dipelajari terlebih dulu. Dengan demikian, diharapkan CFD tak akan mengganggu kegiatan masyarakat di akhir pekan.

“Jangan sampai keinginannya untuk membuat warga sehat ternyata malah membuat warga tidak sehat karena harus menanggung beban jalan yang ditutup dan sebagainya. Sehingga dengan demikian pasti kami akan putuskan pada saat yang tepat,” kata Pramono.

Sebelumnya, seperti ditulis Antara, Pramono sempat mengaku usulan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat terkait car free day (CFD) agar digelar dua kali dalam sepekan di ibu kota, telah dibahas secara internal. Pramono menilai usulan agar CFD dilakukan Sabtu dan Minggu cukup rasional untuk dipertimbangkan.

"Saya sudah membaca usulan tersebut. Dan sebenarnya usulan itu cukup rasional. Maka di internal Balai Kota, kami sudah melakukan pembahasan," ujar Pramono.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....