KAI Daop 1 Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Operasional Tetap Terjaga

  • 12 Sep 2026 17:48 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • PT KAI Daop 1 Jakarta telah menggunakan 6,5 juta liter bahan bakar B50 untuk operasional kereta api hingga 10 September 2026.
  • Penggunaan B50 dimulai dengan uji coba pada lokomotif sejak Mei 2026 dan diterapkan secara penuh untuk perjalanan kereta api sejak Juli 2026.
  • Penerapan bahan bakar campuran biodiesel dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan sarana transportasi.

RRI.CO.ID, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta telah menggunakan sekitar 6,5 juta liter bahan bakar B50 untuk mendukung operasional kereta api hingga 10 September 2026. Penggunaan bahan bakar campuran biodiesel tersebut diterapkan secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan sarana.

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Franoto Wibowo mengatakan, penerapan B50 diawali dengan uji coba pada lokomotif sejak Mei 2026. Penggunaan B50 kemudian diterapkan untuk mendukung perjalanan kereta api mulai Juli 2026 hingga saat ini.

“Sejak tahap uji coba pada Mei 2026 hingga penerapan dalam operasional perjalanan KA mulai Juli 2026, penggunaan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta berjalan dengan baik. Hingga saat ini sekitar 6,5 juta liter B50 telah digunakan untuk mendukung operasional sarana perkeretaapian,” ujar Franoto.

Penggunaan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta saat ini mencakup lokomotif yang melayani sekitar 79 nomor perjalanan kereta api serta 49 kereta pembangkit. Berdasarkan pemantauan KAI, belum terdapat gangguan sarana yang teridentifikasi berkaitan dengan penggunaan B50 dan berdampak terhadap perjalanan kereta api.

Franoto menjelaskan, B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri dari campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen bahan bakar diesel. Karena memiliki karakteristik berbeda dengan bahan bakar sebelumnya, penerapannya membutuhkan kesiapan teknis dan dilakukan melalui pengujian serta pemantauan performa sarana.

“Penerapan B50 bukan sekadar pergantian jenis bahan bakar. KAI memastikan aspek teknis sarana, pemeliharaan, ketersediaan bahan bakar, hingga kesiapan penanganan apabila terjadi gangguan tetap diperhatikan secara menyeluruh,” jelasnya.

Untuk menjaga kondisi sarana, KAI Daop 1 Jakarta juga memperkuat kegiatan pemeliharaan lokomotif dan kereta pembangkit yang menggunakan B50. Pemeriksaan dilakukan secara berkala, termasuk pada sistem bahan bakar dan komponen filtrasi, serta penggantian komponen berdasarkan hasil pemeriksaan dan kebutuhan teknis.

“KAI memiliki pengalaman dalam proses transisi penggunaan bahan bakar, termasuk pada penerapan B40 sebelumnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar dalam melakukan penerapan B50 secara bertahap dengan tetap mengedepankan keselamatan dan keandalan operasional,” kata Franoto.

KAI juga menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi gangguan pada sarana yang beroperasi menggunakan B50. Salah satunya melalui kesiapan lokomotif pengganti di sejumlah titik serta kereta pembangkit untuk menjaga keberlangsungan perjalanan.

Franoto menegaskan, penerapan bahan bakar baru tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan kepada pengguna kereta api. Hingga saat ini, penggunaan B50 di wilayah Daop 1 Jakarta tidak menunjukkan gangguan yang teridentifikasi akibat bahan bakar tersebut terhadap ketepatan waktu maupun kelancaran perjalanan.

“Selama implementasi B50, pelayanan kepada pelanggan tetap menjadi perhatian utama. Kami memastikan proses transisi bahan bakar tidak mengurangi standar keselamatan, keandalan sarana, ketepatan waktu, maupun kenyamanan pelanggan,” ujar Franoto.

Di sisi lain, KAI terus melakukan perencanaan kebutuhan BBM berdasarkan jumlah perjalanan, jenis sarana, dan kebutuhan operasional harian. Koordinasi dengan pihak terkait juga dilakukan untuk memastikan pasokan bahan bakar tersedia sesuai kebutuhan perjalanan.

Penggunaan B50 menjadi bagian dari dukungan KAI terhadap pemanfaatan bahan bakar nabati dan transisi energi yang lebih berkelanjutan di sektor transportasi. Franoto mengatakan evaluasi terhadap penerapan B50 akan terus dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan dan keandalan tetap terjaga.

“KAI akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan B50. Kami mendukung pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan, namun pada saat yang sama keselamatan perjalanan, keandalan sarana, ketepatan waktu, dan kualitas pelayanan kepada pelanggan tetap menjadi prioritas utama,” tutup Franoto.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....