Abu Vulkanik Anak Krakatau Mencapai Jakarta, BMKG Pantau Perkembangannya

  • 06 Sep 2026 09:18 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai wilayah Jakarta pada Minggu 6 September 2026.
  • Dua klaster abu vulkanik teridentifikasi bergerak dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki menuju timur laut dan selatan.
  • Sebaran abu vulkanik mencakup wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya dengan pemantauan berkelanjutan berdasarkan kondisi atmosfer dan arah angin.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terdeteksi mencapai sebagian wilayah Jakarta, Minggu 6 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau perkembangan sebaran abu berdasarkan kondisi atmosfer dan arah pergerakan angin.

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada pukul 06.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Klaster pertama terpantau dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran ini mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

Sementara klaster kedua terpantau hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki. Sebarannya bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta wilayah Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten. Data tersebut dianalisis BMKG dengan mengacu pada informasi PVMBG, VAAC Darwin dan citra satelit Himawari-9.

Erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri masih berlangsung. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat erupsi pada Minggu pukul 03.53 WIB dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi 30 detik. Masyarakat, wisatawan dan pendaki diminta tidak mendekati kawah aktif dalam radius tiga kilometer.

Dampak sebaran abu vulkanik juga telah dirasakan terhadap aktivitas penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara pada pukul 01.30 hingga 05.30 WIB, setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik di kawasan bandara. Hingga data pada 5 September pukul 22.00 WIB, sebanyak 33 penerbangan terdampak, yakni terdiri dari pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang dan pengalihan penerbangan.

BMKG mengingatkan bahwa arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan angin. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau terus memantau informasi resmi dari BMKG, PVMBG atau Badan Geologi, BNPB, BPBD serta pemerintah daerah.

Masyarakat yang mengalami hujan abu juga disarankan menggunakan masker saat berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas di luar rumah, serta menutup pintu, jendela dan ventilasi untuk mengurangi masuknya partikel abu ke dalam rumah. Jika abu telah menempel di permukaan, pembersihan sebaiknya dilakukan secara basah agar partikel halus tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Jakarta menunjukkan bahwa dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya perlu diwaspadai di sekitar gunung api. Kondisi atmosfer dan arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang berpotensi terdampak. BMKG bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan sebaran abu dan dampaknya terhadap masyarakat maupun transportasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....