Kementan Jawab Keluhan Petani Rorotan Bibit Padi Tidak Seragam
- 05 Sep 2026 08:45 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA — Raut lega sekaligus kecewa terpancar dari wajah Pak Asmat (67). Selaku Ketua Kelompok Tani Maju Bersama di kawasan Rorotan, ia menyambut musim panen kali ini dengan perasaan bercampur aduk. Dibandingkan awal tahun lalu saat wilayah mereka diterpa gagal panen total akibat banjir dan hama, musim ini sekitar 90 persen lahan tani seluas lebih dari 28 hektar milik kelompoknya berhasil dipanen.
Harga jual gabah kering di tingkat petani pun tergolong bersahabat. Pembeli dan pedagang lokal berani membeli di atas standar bulog (Rp6.500 per kilogram), memberikan angin segar bagi ekonomi para petani.
Namun, kebahagiaan itu tak sepenuhnya utuh. Di balik riuhnya suasana panen, terselip cerita pahit soal benih padi bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang mereka tanam.
"Awalnya kita masih membela diri ke teman-teman anggota. Kita bilang 'enggak kok, benihnya bagus, kan dari Kementan'. Tapi pas padi mulai umur dua bulan dan bulir mulai keluar, baru ketahuan. Pohonnya lemas, tingginya beda-beda, dan buahnya enggak bareng," tutur Pak Asmat kenang masa-masa awal menanam.
Keraguan para petani akhirnya terbukti. Benih yang dibagikan ternyata tidak murni satu varietas. Pohon padi tumbuh tidak seragam; ada yang terlalu tinggi hingga mudah ambruk, bahkan ada yang menghasilkan beras merah saat dikupas. Padi yang tumbuh menjulang ini menjadi sasaran empuk hama burung karena posisinya tidak terlindungi jaring penutup.
Akibat ketidakseragaman benih tersebut, produktivitas lahan merosot tajam. Lahan satu hektar yang biasanya mampu menghasilkan 5 hingga 6 ton gabah kering, kali ini hanya mampu menyumbang sekitar 2 hingga 3,2 ton saja—alias merosot hampir separuhnya. Bahkan, ada sekitar empat hektar lahan rekan sesama petani yang mengalami gagal total hingga tanamannya memerah dan 'hangus'.
Rasa getir makin membakar dada ketika Pak Asmat dan anggotanya melihat petani tetangga yang memilih membeli benih mandiri. Mereka yang menanam varietas seperti Muncul atau Janggis justru bisa tersenyum lebar meraih hasil melimpah, mencapai 6 hingga 10 ton per hektar.
"Kita sampai iri melihat teman-teman yang beli benih sendiri. Kadang bingung juga kalau dicemooh anggota, mau jawab apa lagi?" ujar Pak Asmat pelan.
Kini, di usia senjanya, Pak Asmat dan para petani di Rorotan hanya bisa mengurut dada. Mereka berharap ada evaluasi dan penanganan serius dari pemerintah agar bantuan benih di masa mendatang tak lagi berujung pada kekecewaan yang menggerus keringat para penggarap sawah.
Atas keluhan petani Rorotan Ike Widyaningrum selaku Ketua Kelompok Substansi Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering, Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, menjelaskan pengadaan benih melalui serangkaian proses uji untuk benihnya sebelum dapat disalurkan ke petani pengusul bantuan pemerintah.
"Benih twrsebut diuji sertifikasi benih di BPSB setempat (misal benih di Jawa Barat di uji di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jabar). Ketika benih itu melewati provinsi lainnya untuk pengadaan, maka diuji ulang atau disebut dengan uji mutu benih di BPSB Provinsi DKI Jakarta." ujarnya.
Menjelaskan urutnya hasil uji baik dari BPSB Jawa Barat maupun uji mutu di BPSP DKI Jakarta menyatakan benih dalam kondisi baik (hasil uji mutu tertera juga di label benih warna biru dan ada barcodenya, bisa ditracking asal benih nya dan uji mutunya). Campuran varietas lain (CVL) hanya 0,4%, sehingga hanya kecil kemungkinan tercampur dengan varietas lain ketika masih di dalam kantong benih
"Secara visual ketika dilihat, benih yang didalam kemasan juga berwarna seperti benih padi umumnya, coklat agak kekuningan, tidak ada yang berwarna merah seperti contoh padi yang dibawa oleh petani, " terang Ike.
Ike menjelaskan ada kkemungkinan tercampurnya benih adalah ketika sudah di lapangan, karena teknik tanam petani (bisa juga dicampur dengan varietas lain milik petani), atau karena bulir2 padi yang rontok pada pertanaman atau proses panen sebelum nya.
"Yang terpenting dari itu semua adalah, hasil (produktivitas) yang didapatkan adalah 3 ton/5000 m2, atau 6 ton/ha. Hasil tersebut masih diatas rata2 nasional sebesar 5,2 - 5,3 ton/ha dan lebih dari rata2 hasil di Rorotan yaitu sebesar 4 ton/ha, " terangnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....