Komunitas KPKS Tangkap 30 Kucing Liar di Tamansari untuk Diseterilisasi

  • 31 Agt 2026 16:31 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Suku Dinas KPKP Jakarta Barat telah berhasil mensterilisasi 200 ekor kucing jantan lokal di Kantor Kecamatan Tamansari sebagai bagian dari upaya pengendalian populasi kucing.
  • Dari total 200 kucing yang disterilisasi, 30 di antaranya merupakan kucing liar yang ditangkap dari berbagai lokasi di wilayah Jakarta Barat menggunakan metode TNR.
  • Program sterilisasi ini dilaksanakan melalui kolaborasi antara Suku Dinas KPKP Jakarta Barat dengan Komunitas Pencinta Kucing Sehati untuk memastikan penanganan kucing liar yang humanis dan efektif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) mensterilisasi 200 ekor kucing jantan lokal di Kantor Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Adapun 30 diantaranya merupakan kucing liar hasil tangkapan di sejumlah lokasi di wilayah tersebut.

Dalam pelaksanaannya, Sudin KPKP Jakarta Barat menggandeng Komunitas Pencinta Kucing Sehati (KPKS) untuk melakukan penangkapan kucing liar menggunakan metode TNR (Trap-Neuter-Return).

Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakarta Barat, Tanti mengatakan, proses penangkapan dilakukan oleh tim komunitas sejak malam sebelum pelaksanaan sterilisasi.

“Semalam mereka sudah mencoba melakukan TNR, jadi penangkapan (trap) pada kucing-kucing liar yang ada di sekitar Kecamatan Tamansari dan berhasil tertangkap 30 ekor,” kata Tanti saat ditemui lokasi pada Senin, 31 Agustus 2026.

Tanti menjelaskan, kucing-kucing tersebut akan menjalani perawatan setelah disterilisasi. Setelah kondisinya dinyatakan pulih, kucing akan dikembalikan ke lokasi atau habitat asalnya.

“Begitu mereka sembuh baru dilepaskan kembali ke habitat semula,” katanya.

Tanti menjelaskan, berdasarkan laporan warga dan pemantauan komunitas, cukup banyak kucing liar yang berkeliaran di Kecamatan Tamansari, baik jantan maupun betina.

Namun, kegiatan sterilisasi kali ini difokuskan pada kucing jantan. Untuk kucing betina, Sudin KPKP bersama komunitas akan kembali melakukan kegiatan TNR di Tamansari pada kesempatan berikutnya.

“Untuk kali ini kami akan menangkap untuk yang kucing jantan. Untuk yang kucing betina, nanti kami juga akan datang kembali ke sini untuk melakukan TNR,” jelasnya.

“Jadi kita menangkap, kemudian kita sterilisasi, tapi di tempat lain, kemudian nanti akan dikembalikan ke habitat semula,” sambung Tanti.

Tanti menyebut, terdapat sejumlah lokasi yang menjadi kantong populasi kucing liar di Kecamatan Tamansari. Salah satunya berada di sekitar kawasan Kota Tua Jakarta.

“Kalau khususnya di Kecamatan Tamansari, berdasarkan info dari tim KPKS, mereka sudah gerilya semalam di sekitar khususnya di Kantor Kecamatan Tamansari, kemudian di museum-museum di Kota Tua, juga di kelurahan-kelurahan yang dekat di sini,” ujarnya.

Lokasi-lokasi tersebut telah dipetakan komunitas berdasarkan laporan warga maupun hasil pemantauan langsung. Komunitas menyebut lokasi dengan populasi kucing liar tinggi sebagai “zona merah”.

“Mereka menyebutnya zona merah, dan mereka yang hafal di mana zona-zona merah berada di Kecamatan Tamansari,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Pencinta Kucing Sehati (KPKS), Friscka Suhanda atau yang akrab disapa Mak Basten, mengatakan penangkapan 30 kucing liar dilakukan oleh lima anggota komunitas.

Menurutnya, keberadaan kucing-kucing tersebut diketahui melalui laporan masyarakat maupun hasil pemantauan komunitas ketika melakukan kegiatan street feeding atau pemberian makanan kepada kucing liar.

“Kebetulan semalam kita berlima. Kalau untuk kucingnya sendiri memang sudah ada di sini. Ada beberapa yang dari laporan warga, ada juga yang memang kita sering keliling street feeding, nah kita tahu di sini ada kucing jantan,” ujar Mak Basten.

Ia mengatakan, salah satu lokasi dengan populasi kucing liar yang cukup banyak berada di Gang Cemara 5C, Tamansari.

“Kalau di Tamansari paling banyak di belakang sini, Cemara 5C. Maksudnya nama gangnya. Di situ banyak sekali kucing,” katanya.

Dari hasil penelusuran di lokasi tersebut, kata dia, anggota komunitas menemukan sedikitnya 11 kucing jantan. Namun, dua di antaranya belum berhasil ditangkap. Sementara jumlah kucing betina di lokasi tersebut disebut jauh lebih banyak.

“Kalau di situ untuk jantannya saja cuma 11 ekor, ada dua yang tidak tertangkap, sisanya betina banyak banget,” ujar Mak Basten.

Mak Basten menjelaskan, proses penangkapan dilakukan menggunakan keranjang dan umpan makanan. Menurut dia, kucing yang sudah terbiasa dengan manusia akan lebih mudah ditangkap.

“Bawa keranjang, terus kita pancing makanan. Yang memang sudah terbiasa sama manusia, gampang diambil, gampang ditangkap,” katanya.

Namun, lanjut Mak Basten, untuk kucing yang lebih liar dan sulit didekati, anggota komunitas menggunakan teknik lain dengan memanfaatkan momen ketika kucing sedang makan.

“Kalau yang enggak, ya kita tubruk. Saat dia makan, dia lengah, kita tubruk pakai keranjang,” ujarnya.

Proses penangkapan tersebut dilakukan selama sekitar empat jam. Lima anggota KPKS mulai bergerak pada sekitar pukul 20.00 WIB hingga tengah malam.

“Semalam kebetulan kita dari jam 08.00 lewat sampai jam 12.00 malam,” kata Mak Basten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....