Resmi Pimpin PMKRI, Yohanes Tola Serukan Rekonsiliasi dan Solidaritas bagi Flores
- 20 Agt 2026 17:57 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Yohanes Tola akhirnya terpilih sebagai Mandataris Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA)/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) periode 2026–2028.
Penetapan Yohanes dilakukan dalam MPA lanjutan di Bandung setelah Kongres XXXIV dan MPA XXXIII yang sebelumnya digelar di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 19–25 Juli 2026 belum menghasilkan keputusan final terkait kepemimpinan nasional PMKRI.
Usai terpilih, Yohanes mengajak seluruh kader mengakhiri sekat akibat dinamika persidangan dan mengarahkan kembali energi organisasi pada konsolidasi.
“Dinamika yang kita lalui dari Ruteng hingga Bandung adalah bukti ketangguhan dan kedewasaan berorganisasi seluruh kader PMKRI. Perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah, namun komitmen terhadap pembinaan dan perjuangan organisasi adalah yang utama. Hari ini, tidak ada lagi sekat,” ujar Yohanes dalam keterangan resminya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ia menegaskan, kepemimpinan baru akan berupaya memperkuat tiga nilai utama PMKRI, yakni Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas, sekaligus mengembalikan peran strategis organisasi di tengah Gereja dan kehidupan kebangsaan.
Menurut Yohanes, berakhirnya MPA XXXIII harus menjadi titik awal rekonsiliasi. Seluruh cabang dan kader diharapkan dapat kembali bersatu untuk memperkuat kaderisasi, pengabdian masyarakat, serta perjuangan terhadap berbagai persoalan bangsa.
Di tengah momentum tersebut, Yohanes juga menyampaikan keprihatinan atas gempa bumi yang berdampak terhadap masyarakat Flores.
“Saya menyampaikan duka yang mendalam kepada seluruh masyarakat Flores yang terdampak gempa. Tidak boleh ada satu pun masyarakat yang merasa sendirian dalam situasi seperti ini. Mereka membutuhkan kehadiran dan bantuan kita,” katanya.
Yohanes menegaskan, solidaritas harus diwujudkan melalui tindakan nyata. PMKRI bersama cabang-cabang di berbagai daerah, akan berupaya memberikan bantuan sesuai kebutuhan dan kemampuan di lapangan.
“Solidaritas tidak cukup berhenti pada pernyataan belasungkawa. PMKRI bersama cabang-cabang di berbagai daerah akan bergerak untuk membantu masyarakat terdampak sesuai kemampuan dan kebutuhan di lapangan,” ucapnya.
Setelah terpilih, Yohanes menghadapi sejumlah pekerjaan besar. Sebagai Formatur Tunggal, ia akan menyusun kabinet PP PMKRI periode 2026–2028 dengan mempertimbangkan kapasitas kader, kebutuhan organisasi, representasi cabang, inklusivitas, dan akuntabilitas.
Agenda berikutnya adalah rekonsiliasi dan konsolidasi nasional untuk mengutuhkan kembali seluruh kekuatan organisasi setelah melewati dinamika MPA yang cukup panjang.
Penguatan sistem kaderisasi juga menjadi pekerjaan penting. PMKRI dituntut mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, karakter kuat, serta komitmen terhadap nilai-nilai organisasi dan kehidupan kebangsaan.
Selain itu, kepemimpinan baru diharapkan meningkatkan respons organisasi terhadap persoalan sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan. Nilai Fraternitas, Kristianitas, dan Intelektualitas tidak hanya menjadi prinsip organisasi, tetapi juga diterjemahkan melalui kerja nyata di tengah masyarakat.
Dengan berakhirnya MPA XXXIII di Bandung, PMKRI kini memasuki fase baru. Mandat kepada Yohanes Tola sekaligus menjadi tantangan untuk mengubah dinamika internal menjadi energi positif bagi konsolidasi, kaderisasi, dan pengabdian.
Setelah melewati perjalanan panjang dari Ruteng hingga Bandung, pekerjaan utama PMKRI kini bukan lagi mempertahankan perbedaan, melainkan membangun kembali persatuan dan memastikan organisasi hadir secara nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....