Terlalu Jauh, Jadi Alasan Warga Nekat Melawan Arus di Jalan ORR Rawa Buaya

  • 13 Agt 2026 18:30 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Sejumlah pengendara sepeda motor masih nekat melawan arus di Jalan Outer Ring Road (ORR), Rawa Buaya, Jakarta Barat, pada Kamis, 13 Agustus 2026. Pantauan RRI di lokasi, pengendara sepeda motor yang berlawanan, didominasi mereka yang datang dari arah Cengkareng dan hendak menuju Duri Kosambi hingga Rawa Buaya.

Tidak hanya orang dewasa, sejumlah pelajar yang berboncengan dengan rekannya juga terlihat ikut melawan arus.

Warga Rawa Buaya, Andri mengatakan, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi akses jalan yang dianggap terlalu jauh apabila warga harus mengikuti jalur resmi.

Menurut Andri, kawasan Duri Kosambi memiliki banyak masjid besar dan sekolah. Ia mengatakan, sebagian pelajar, guru, maupun warga tinggal di wilayah Rawa Buaya sehingga memilih jalur yang dianggap lebih dekat.

“Rata-rata di sini (Duri Kosambi) ada masjid besar, ada sekolah juga. Kebetulan mungkin yang sekolah itu, entah siswanya atau gurunya, rata-rata pemukimannya dekat situ (Rawa Buaya), mereka mungkin kalau muter ke sana agak jauh,” kata Andri saat ditemui di lokasi, Kamis.

Andri mengatakan, jika pengendara mengikuti jalur yang tersedia dan harus memutar melalui kawasan Puri, waktu perjalanan dapat mencapai 40 menit ketika kondisi lalu lintas sedang padat.

“Kalau macet parah bisa sampai 40 menit. Karena muter ke sana kan ada lampu merah, terus ada perbaikan jalan juga,” ujarnya.

Sementara itu, kata dia, apabila mengambil jalur yang berlawanan di sekitar lokasi, waktu tempuh disebut jauh lebih singkat. Perjalanan yang biasanya memakan waktu hingga puluhan menit dapat ditempuh kurang dari lima menit.

“Kalau di sini paling cuma berapa menit, tiga menit. Betul, nggak sampai lima menit di sini,” kata Andri.

Menurutnya, kondisi tersebut juga membuat warga, termasuk orang tua yang mengantar anak sekolah, memilih jalur yang dianggap lebih praktis.

“Selain dari sisi warga, ojol pun juga sama. Lebih milih motong jalur. Mereka juga kan ngejar waktu, ngejar tarikan,” katanya.

Meski memahami adanya aturan lalu lintas yang harus dipatuhi, Andri berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menyediakan jalur alternatif bagi masyarakat.

“Jalur alternatif sih sebenarnya. Kan mungkin banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatin dan bisa menghubungkan Rawa Buaya dan Duri Kosambi, sehingga warga tidak perlu lagi lawan arah,” ujarnya.

Sementara itu, warga Rawa Buaya lainnya, Nur, menilai persoalan melawan arus perlu dikaji secara menyeluruh sebelum dilakukan penindakan.

Menurut Nur, masyarakat memang harus mematuhi aturan lalu lintas. Namun, kondisi akses jalan di sekitar lokasi juga perlu menjadi pertimbangan.

“Memang harus ada aturan, tapi kondisi aksesnya juga perlu diperhatikan. Kalau ada jalan alternatif yang mudah dan tidak memutar terlalu jauh, warga pasti lebih memilih lewat jalan yang benar,” ujar Nur.

Nur juga menyoroti keberadaan para pelajar yang harus berangkat ke sekolah sejak pagi. Menurutnya, akses perjalanan menjadi salah satu pertimbangan masyarakat ketika memilih jalur yang dinilai lebih cepat.

Ia berharap persoalan melawan arus di kawasan tersebut tidak hanya diselesaikan melalui penindakan terhadap pengendara, tetapi juga dengan penyediaan akses yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

“Ya pasti kita maunya pemerintah dan pihak terkait bisa mencari solusi yang terbaik buat masyarakat, dan yang pastinya tidak menyusahkan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis belum ada pihak pihak terkait yang berhasil dikonfirmasi untuk dimintai penjelasannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....