Progres Pembangunan LRT Velodrome–Manggarai Capai 97,9 Persen

  • 13 Agt 2026 18:03 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pembangunan LRT Jakarta lintas Velodrome–Manggarai memasuki tahap akhir. Hingga minggu keempat Juli 2026, progres pembangunan jalur sepanjang 6,4 kilometer tersebut telah mencapai 97,9 persen, dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir Agustus 2026.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pengoperasian lintas tersebut akan memperluas konektivitas transportasi publik, terutama bagi masyarakat yang melakukan perjalanan dari Jakarta Utara, Jakarta Timur, hingga Jakarta Selatan.

“Ini akan memberi banyak kemudahan bagi warga Jakarta maupun dari sekitar Jakarta, aglomerasi yang akan menggunakan fasilitas yang ada, baik itu LRT maupun KRL maupun tempat ini yang di Manggarai,” ujar Pramono, saat meninjau progres pembangunan LRT Jakarta di Stasiun LRT Manggarai, Kamis, 13 Agustus 2026.

Menurut dia, pekerjaan yang tersisa terutama berada pada sistem persinyalan dan sejumlah fasilitas pendukung sebelum layanan dapat dioperasikan “Kalau ditanya berapa kesiapan secara keseluruhan, sekarang ini sudah di angka 97,9 persen, jadi hampir 98 persen. Apa yang kurang? Yaitu hanya pensinyalan di beberapa titik, tetapi akan selesai tanggal 20 Agustus ini,” katanya.

Lebih lanjut Pramono menjelaskan, lintas Velodrome–Manggarai merupakan bagian dari jalur LRT Jakarta Kelapa Gading–Manggarai sepanjang 12,2 kilometer. Jalur tersebut dibangun dengan investasi Rp12,1 triliun dan memiliki 11 titik pemberhentian.

“Selain persinyalan, penyelesaian tahap akhir mencakup akses keluar-masuk penumpang dan fasilitas universal, termasuk guiding block serta lift bagi penyandang disabilitas,” ujarnya.

Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro juga melakukan serangkaian pengujian dan verifikasi. Pengujian mencakup uji jalur, sistem persinyalan, pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM), hingga Safety Assessment.

Pramono mengatakan pengoperasian LRT hingga Manggarai akan membuat jaringan transportasi publik Jakarta semakin terhubung. Jalur tersebut menghubungkan Kelapa Gading di Jakarta Utara, kawasan Velodrome di Jakarta Timur, hingga Manggarai di Jakarta Selatan.

“Tanpa disadari, inilah yang menghubungkan tiga wilayah utama Jakarta, yaitu mulai dari utara, Kelapa Gading, kemudian Jakarta Timur, dan sekarang kita berada di Jakarta Selatan,” ujarnya.

Lebih lanjut Pramono menjelaskan, setelah lintas Kelapa Gading–Manggarai beroperasi penuh, jumlah penumpang diproyeksikan mencapai sekitar 60.000 orang per hari pada tahap awal dan meningkat menjadi sekitar 80.000 penumpang per hari dalam kondisi normal.

Layanan LRT direncanakan beroperasi mulai pukul 05.00 hingga 24.00 WIB. Setiap rangkaian kereta memiliki kapasitas sekitar 275 penumpang. Stasiun LRT Manggarai juga akan terhubung dengan sejumlah moda transportasi lain, yakni Halte Transjakarta Manggarai, Stasiun Manggarai KRL Commuter Line, dan layanan KA Bandara.

Integrasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan Manggarai sebagai simpul transportasi. Pramono juga melihat kawasan tersebut memiliki peluang untuk berkembang sebagai pusat pertumbuhan berbasis Transit Oriented Development (TOD).

“Nanti di tempat ini, baik dilakukan oleh pemerintah pusat atau pemerintah Jakarta atau swasta, akan dibangun banyak TOD-TOD baru,” kata Pramono.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) Iwan Takwin mengatakan Jakpro menyiapkan fasilitas stasiun untuk mendukung integrasi antarmoda sekaligus memberikan kenyamanan kepada pengguna.

“Target kami adalah memberikan fasilitas modern yang nyaman sehingga itu bisa mengubah budaya. Jadi tidak hanya membangun infrastrukturnya, tetapi membangun masyarakatnya, perilakunya juga akan berubah karena mereka menikmati dan nyaman,” kata Iwan.

Jakpro juga berkoordinasi dengan PT KAI untuk menyiapkan koneksi langsung antara LRT dan KRL di kawasan Manggarai. Dengan koneksi tersebut, penumpang diharapkan dapat berpindah moda tanpa harus melakukan perjalanan ke area yang lebih rendah.

“Orang, penduduk, warga, atau penumpang dari KRL pindah ke LRT, LRT ke KRL, itu tidak perlu turun ke bawah, bisa langsung terkoneksi dengan KAI. Jadi mobilisasinya akan lebih nyaman nantinya,” ujar Iwan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....