Pemotor Nekat Lawan Arah di Rawa Buaya, Warga: Kalau Muter Jauh

  • 13 Agt 2026 15:50 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Viral di media sosial aksi protes warga terhadap sejumlah konten kreator yang melarang pengendara saat melawan arus di Jalan Outer Ring Road, Rawa Buaya, Jakarta Barat. Aksi protes ini terjadi pada Selasa, 11 Agustus 2026 sore.

Berdasarkan video yang diunggah akun Instagram @warga.jakbar, sejumlah warga terlihat memprotes orang yang disebut sebagai konten kreator karena menegur pengendara yang melawan arah di kawasan tersebut.

Dari pantauan RRI Jakarta pada Kamis, 13 Agustus 2026 sekira pukul 12.00 WIB, aksi warga saat melawan arus masih terlihat di lokasi.

Sejumlah pengendara sepeda motor itu nekat mengambil jalur berlawanan, khususnya pengendara yang datang dari arah Cengkareng dan hendak hendak menuju Duri Kosambi hingga Rawa Buaya

Di lokasi, tidak hanya orang dewasa, sejumlah anak sekolah yang berboncengan dengan rekannya pun juga terlihat ikut melawan arus di kawasan tersebut.

Salah seorang warga Duri Kosambi, Intan mengatakan, sebagian masyarakat lebih memilih melawan arus karena mempertimbangkan waktu tempuh jika harus memutar melalui jalur yang tersedia.

Intan menuturkan, jika pengendara harus memutar melalui kawasan Puri, hal ini membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama dibanding melawan arus.

“Kalau kita muter lewat Puri, nyampe ke Rawa Buaya bisa 10 sampai 15 menit. Ditambah lagi kalau macet, haduh itu bisa 20 menitan. Tapi kalau lewat sini (lawqn arah), paling sekitar 3 menit juga udah sampe,” kata Intan saat ditemui di lokasi, Kamis.

Ia menjelaskan, pengendara yang paling banyak melakukan aksi melawan arah merupakan warga yang hendak menuju Duri Kosambi hingga kawasan Rawa Buaya.

“Alasannya ya pasti warga cuma milih lawan arus karena ingin mendapatkan akses yang lebih cepat menuju tempat tujuan aja sih,” ucap Intan.

Sementara itu, warga Rawa Buaya, Nur menilai kondisi di lapangan perlu dikaji secara menyeluruh sebelum dilakukan penindakan.

Menurut Nur, masyarakat membutuhkan akses jalan alternatif atau jalan pintas yang dapat digunakan untuk menuju wilayah tujuan tanpa harus mengambil risiko melawan arus.

“Memang harus ada aturan, tapi kondisi aksesnya juga perlu diperhatikan. Kalau ada jalan alternatif yang mudah dan tidak memutar terlalu jauh, warga pasti lebih memilih lewat jalan yang benar,” ujar Nur.

Nur juga menyoroti kondisi para pelajar yang harus berangkat ke sekolah sejak pagi. Menurutnya, akses perjalanan menjadi salah satu pertimbangan masyarakat dalam memilih jalur yang dianggap lebih cepat.

Ia berharap persoalan melawan arus di kawasan tersebut tidak hanya diselesaikan dengan penindakan terhadap pengendara, tetapi juga melalui penyediaan akses yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

“Ya pasti kita maunya pemerintah dan pihak terkait bisa mencari solusi yang terbaik lah buat masyarakat, dan yang pastinya tidak menyusahkan masyarakat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....