Kemarau Panjang Jakarta Tingkatkan Risiko Kebakaran

  • 11 Agt 2026 17:17 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kemarau Panjang Jakarta Tingkatkan Risiko Kebakaran

RRI.CO.ID, Jakarta - Kondisi kemarau panjang di Jakarta meningkatkan risiko kebakaran serta memunculkan sejumlah dampak yang perlu diwaspadai masyarakat. Selain kebakaran, masyarakat juga perlu mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air bersih dan menurunnya kualitas udara.

Ketua Subkelompok Pemulihan dan Peningkatan Fisik BPBD DKI Jakarta Muhammad Fariz Azmi, mengatakan Jakarta mulai memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan cuaca yang semakin panas dalam beberapa pekan terakhir serta berkurangnya intensitas hujan.

“Memang beberapa minggu terakhir atau bulan terakhir ini kita sering merasakan bahwa cuaca di Jakarta ini menjadi lebih panas,” ujar Fariz di Jakarta.

Faris menjelaskan, berdasarkan perhatian BMKG, kondisi kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dibandingkan biasanya akibat fenomena El Nino. Fenomena tersebut perlu dipahami masyarakat agar dapat mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin terjadi selama kemarau.

“El Nino itu sederhananya adalah fenomena di mana meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik,” Jelas Fariz.

Menurut Fariz, kemarau yang lebih panjang dan kering dapat meningkatkan potensi kebakaran, terutama pada kawasan padat penduduk. Risiko serupa juga dapat terjadi pada lahan-lahan yang mudah mengering akibat paparan panas dalam waktu panjang.

“Untuk terkait kemarau panjang pasti meningkatkan risiko kebakaran yang biasanya lebih sering terjadi di wilayah padat penduduk,” katanya.

Dampak lain yang perlu diantisipasi adalah potensi krisis air bersih, khususnya di kawasan yang belum terjangkau jaringan air. Wilayah yang masih bergantung pada sumur atau air tanah juga berpotensi mengalami penurunan debit air hingga kekeringan.

Masyarakat diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu api selama kondisi kemarau berlangsung. Pemeriksaan instalasi listrik, penggunaan air secara bijak, serta pengenalan jalur dan pelaporan keadaan darurat juga perlu dilakukan sejak dini.

“Selain air bersih, dampak lain yang perlu kita waspadai jadi lebih kering,” tutur Fariz. Ia menambahkan, kualitas udara juga cenderung menurun karena minimnya hujan yang biasanya membantu membersihkan udara dari polutan.

Kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang membutuhkan peran pemerintah sekaligus keterlibatan aktif masyarakat. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan bencana, namun masyarakat diharapkan mampu mengenali risiko dan segera melaporkan kondisi yang membahayakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....