Bangkit dari Gagal Panen, Petani Rorotan Bersiap Panen Raya di Tengah Musim Kemarau
- 04 Agt 2026 08:07 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Di balik tegaknya gedung-gedung dan deru pembangunan kawasan perkotaan, aroma tanah basah dan bulir padi yang menguning masih terasa di kawasan Rorotan, Jakarta Utara. Di sinilah Pak Somad (56), seorang petani penggarap asli Rorotan, terus merawat napas pertanian ibu kota yang kian langka.
Setelah sempat diterpa badai kegagalan pada panen bulan Januari lalu akibat diterjang banjir dan serangan hama burung, kini raut wajah Pak Somad tampak lebih cerah. Menyusuri pematang sawahnya, ia menatap optimis bulir-bulir padi yang diperkirakan siap dipanen dalam kurun waktu 20 hari ke depan, atau menjelang akhir Agustus.
"Alhamdulillah, tahun ini hasilnya lebih lumayan dibanding tahun kemarin," ujar Pak Somad saat ditemui di area persawahan, Senin 3 Juli 2026 kemarin.
Meski wilayah Jakarta sedang dilanda musim kemarau dan pasokan hujan surut dalam beberapa pekan terakhir, persawahan Pak Somad tak sampai kekeringan. Keberadaan aliran irigasi dari Kali Gendong dan Kali BKT menjadi penyelamat utama, menjaga sawahnya tetap teraliri air dengan baik.
Bagi Pak Somad yang telah melakoni profesi sebagai petani sejak tahun 1985—jauh sebelum kawasan Rorotan sepadat sekarang—bertani bukan sekadar mencari nafkah, tetapi bagian dari jalan hidupnya. Dukungan dan pembinaan dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukapura serta kelompok tani setempat turut membantunya bertahan, termasuk dalam pengadaan bibit dan pupuk.
Pada panen kali ini, ia memperkirakan mampu mengantongi hingga 5 ton gabah per hektar. Dengan harga gabah di pasaran yang saat ini menyentuh kisaran Rp600.000 per kuintal, Pak Somad berharap hasil panen ini dapat menutup kerugian masa lalu sekaligus menopang kebutuhan keluarganya.
"Harapan saya cuma satu, mudah-mudahan harga gabah stabil dan tidak turun. Biar hasilnya benar-benar bisa dirasakan buat kebutuhan sehari-hari," tuturnya penuh harap.
Di tengah gempuran zaman dan menyempitnya lahan penggarapan, keberadaan petani seperti Pak Somad adalah bukti nyata ketangguhan masyarakat lokal. Di atas tanah penggarapan ini, harapan itu terus dipupuk, membuktikan bahwa hijau sawah dan semangat petani masih ada dan terus berhembus di sudut Jakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....