Kinerja Emiten Tambang MIND ID Diproyeksi Tumbuh 30 Persen
- 03 Agt 2026 18:12 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kinerja emiten tambang pelat merah yang tergabung dalam Grup MIND ID diproyeksikan membaik pada semester II 2026 seiring tren penguatan harga komoditas global.
Pengamat tambang dan energi, Ferdy Hasiman, memperkirakan rata-rata pertumbuhan laba emiten tambang di bawah MIND ID dapat mencapai sekitar 30 persen pada paruh kedua tahun ini.
“Saya kira (kinerja laba) bisa tumbuh rata-rata 30 persen karena melihat harga komoditas sekarang,” kata Ferdy melalui keterangan tertulis, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurutnya, proyeksi tersebut didorong oleh membaiknya harga sejumlah komoditas utama, seperti nikel, timah, batu bara, hingga tembaga yang berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan-perusahaan tambang milik negara.
Ferdy menilai, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu emiten yang memiliki prospek paling menjanjikan. Hal itu didukung oleh pengembangan proyek hilirisasi nikel yang terus berjalan.
Ia menjelaskan, smelter ANTM di Sulawesi Tengah yang memiliki kapasitas sekitar 27 ribu metrik ton, ditambah proyek Feni Haltim di Halmahera dengan kapasitas sekitar 14 ribu metrik ton, diperkirakan akan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap kinerja Grup MIND ID.
“Itu akan mendorong kinerja dari MIND ID karena itu anak perusahaannya yang menurut saya cukup progresif untuk membangun proyek hilirisasi tambang,” ujarnya.
Sejumlah proyeksi lembaga internasional turut mendukung optimisme tersebut. Bank Dunia memperkirakan harga nikel pada 2026 berada di kisaran US$15.500 per metrik ton, sedangkan Goldman Sachs memproyeksikan harga nikel sekitar US$14.500 per metrik ton pada akhir 2026.
Sementara itu, untuk komoditas emas, JPMorgan memproyeksikan harga rata-rata mencapai US$4.300 per ons pada kuartal III 2026 dan meningkat menjadi US$4.500 per ons pada kuartal IV, dengan target harga akhir sebesar US$4.545 per ons.
Selain ANTM, Ferdy menilai PT Timah Tbk (TINS) berpotensi mencatat pertumbuhan kinerja paling signifikan karena didukung kenaikan harga timah di pasar global.
Momentum tersebut diperkirakan mampu menopang kinerja perseroan sepanjang semester II 2026. Lembaga riset BMI (Fitch Solutions) bahkan telah merevisi proyeksi rata-rata harga timah tahun 2026 menjadi US$35.000 per ton, naik dari estimasi sebelumnya sebesar US$32.000 per ton.
Ferdy juga melihat prospek PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan membaik seiring pulihnya harga batu bara dunia setelah sempat melemah pada tahun lalu. Menurutnya, penguatan harga batu bara akan kembali menjadi penopang utama kinerja perusahaan.
Senada dengan itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan saham-saham tambang pelat merah masih menarik untuk dicermati investor.
Menurut Nafan, ANTM masih memiliki prospek positif karena didukung bisnis emas yang tetap solid, sementara investor juga menantikan percepatan proyek hilirisasi dan membaiknya permintaan nikel.
“Sementara itu, investor menunggu percepatan proyek hilirisasi dan perbaikan permintaan nikel. Sehingga, analis merekomendasikan untuk add ANTM, take profit di 3.430,” kata Nafan.
Ia menambahkan, saham PTBA juga masih ditopang fundamental yang relatif defensif berkat arus kas yang kuat serta potensi pembagian dividen, meski harga batu bara diperkirakan bergerak dalam fase normalisasi.
Selain itu, Nafan menilai prospek saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga menarik untuk jangka menengah. Peningkatan kebutuhan nikel sebagai bahan baku kendaraan listrik dinilai menjadi faktor pendukung utama, meski volatilitas harga komoditas global tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan investor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....