Tiga Dekade Memanggul Nasib: Otot dan Keringat Buruh di Lapak Kayu Kalibaru

  • 02 Agt 2026 16:27 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Suara deru mesin dan hiruk-piruk aktivitas bongkar muat menjadi latar kehidupan Pak Rojikin sehari-hari. Pria asal Batang, Jawa Tengah ini sudah merantau dan mengadu nasib di Jakarta selama lebih dari 30 tahun. Sepanjang tiga dekade itu pula, pundaknya tak pernah absen menjadi tumpuan ribuan batang kayu di kawasan Kalibaru.

"Sudah 30-an tahun lebih lah di sini. Sebelum-sebelumnya ya kerja begini juga, jadi pemanggul kayu," tutur Pak Rojikin sederhana kepada RRI Jakarta, Sabtu 1 Agustus 2026.

Pekerjaan sebagai buruh panggul kayu bukanlah hal yang ringan. Setiap kali truk pengangkut kayu yang dikirim dari daerah seperti Lampung tiba, Pak Rojikin dan kawan-kawannya harus bersiap menguras tenaga. Aktivitas harian mereka berputar pada pola yang melelahkan: mengangkut, membongkar, memuat, hingga memotong kayu-kayu tersebut untuk dikirim ke pabrik-pabrik pengolahan.

Sistem kerja di tempatnya mengandalkan pola kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri dari 10 orang. Mereka bahu-membahu membongkar satu muatan mobil truk kayu yang berat totalnya bisa mencapai sekitar 150 kilogram per angkutan bersama. Untuk satu truk kayu, kelompoknya mendapat upah borongan sekitar Rp500.000 yang kemudian dibagi rata.

Di hari-hari baik, saat truk pengangkut intensif berdatangan, seorang buruh panggul seperti Pak Rojikin bisa membawa pulang uang sekitar Rp300.000 per hari. Namun, angka tersebut bukanlah jaminan pasti.

"Penghasilan enggak tentu. Kadang-kadang dapat, kadang-kadang enggak. Tergantung ada mobil datang atau enggak," jelasnya.

Ada kalanya truk kayu tak kunjung tiba karena kendala perjalanan, kemacetan, atau pasokan kayu dari daerah asal yang belum ditebang. Pada hari-hari tanpa kedatangan truk itulah, tidak ada lembaran rupiah yang bisa dibawa pulang untuk keluarga.

Meski harus bergelut dengan ketidakpastian dan rasa pegal yang terus menghinggapi fisiknya setiap hari, Pak Rojikin tetap setia menyandarkan hidupnya pada kayu-kayu di Kalibaru sebuah keteguhan dari seorang perantau yang terus memanggul nasib demi menyambung hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....