Menjaga Abu, Merawat Rindu: Cerita dari Sudut Tempat Titipan Abu Jenazah Cilincing
- 27 Jul 2026 08:56 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Tradisi Hindu-Buddha mengharuskan abu jenazah dilarung ke laut lepas sebagai simbol pelepasan keterikatan duniawi, namun di rumah abu Cilincing belasan abu disimpan dalam status 'titipan' jangka panjang.
- Keluarga memilih menyimpan abu kerabat karena keterikatan emosional yang mendalam dan ketidakmampuan melepaskan benteng kenangan terakhir, menciptakan ilusi kedekatan fisik melalui tempat penyimpanan.
- Deni, penjaga rumah abu selama dua tahun, adalah mantan perias pengantin berpengalaman 20 tahun yang kini bekerja tanpa hari libur, mencerminkan perubahan hidup dramatis dari dunia meriah menuju kesenyian spiritual.
RRI. CO. ID, JAKARTA — Dalam tradisi Hindu dan Buddha, kremasi idealnya diakhiri dengan melarung abu jenazah ke laut lepas. Sebuah prosesi yang menandai titik balik sempurna: melepas keterikatan duniawi dan mengikhlaskan kepergian jiwa. Namun, di sebuah ruang sunyi beratap asbes ini, belasan tempat penyimpanan abu justru bercerita sebaliknya. Abu-abu itu tidak dilarung, melainkan dititipkan.
"Sebenarnya kan Hindu-Buddha dilarung ke laut, dibakar terus dibuang ke laut kalau omong kasarnya. Itu prosesi aslinya, enggak boleh disimpan begini," ujar Deni sang penjaga tempat penitipan abu jenazah Cilincing sembari memandangi deretan kotak-kotak di ruangan tersebut. Senin 27 Juli 2026.
Lantas, mengapa keluarga memilih untuk membiarkan abu kerabat mereka bersemayam dalam status 'titipan'? Jawabannya bukan sekadar urusan prosedur, melainkan tentang keterikatan batin yang enggan pudar. Bagi sebagian keluarga, melepaskan abu ke laut terasa seperti kehilangan benteng kenangan terakhir.
"Semua yang nitip di sini kan pasti masih ada keterikatan sayang sama kerabatnya, makanya dititip. Belum bisa lepas," tambahnya.
Membiarkan abu tetap ada memberikan ilusi kedekatan, sebuah tempat fisik untuk menyalurkan kerinduan, mendoakan secara langsung, atau sekadar merasa dekat dengan leleluhur yang telah berpulang.
Di balik riwayat ribuan abu yang tersimpan, ada perjalanan hidup sang penjaga yang tak kalah unik. Siapa sangka, sosok yang kini akrab dengan kesunyian dan deretan tempat abu ini dulunya bergelut di dunia yang serba meriah. Selama 20 tahun, ia adalah seorang perias pengantin yang lihai memegang gunting dan peralatan tata rias.
"Dulu saya pegang pengantin. Mana sangka sih bisa begini? Orang pegang gunting sama alat make-up 20 tahun," tuturnya diselingi tawa renyah.
Walau kini tak lagi merias pengantin, ia sesekali masih memenuhi panggilan untuk memotong rambut, sembari melakoni tugas utamanya menjaga rumah abu tanpa mengenal hari libur.
Bekerja di tempat yang identik dengan kematian selama dua tahun terakhir tentu menghadirkan pengalaman tersendiri.
Ketika ditanya soal hal-hal mistis atau pengalaman spiritual yang pernah dialaminya, sang penjaga hanya tersenyum misterius. "Iya, banyak," jawabnya singkat, enggan membeberkan lebih lanjut rahasia-rahasia sunyi yang menyelimuti tempat itu.
Meski sesekali atap asbesnya bocor diterpa tampias hujan deras, bangunan tua itu tetap berdiri kokoh. Tidak ada asap dupa yang mengepul atau aroma rokok di dalam ruangan, namun wangi yang khas tetap berembus lembut di antara sudut-sudutnya seolah menjadi penanda hangat bahwa tempat ini senantiasa dirawat dengan penuh ketulusan.
Bagi sang penjaga dan keluarga yang menitipkan abu di sana, tempat ini bukan sekadar bangunan penyimpanan. Ini adalah ruang perantara: tempat di mana duka perlahan diolah, ikatan batin dirawat, dan kerinduan menemukan alamatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....