Cuaca Cerah Belum Tentu Laut Aman, Simak Peringatan BMKG

  • 23 Jul 2026 13:53 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengingatkan masyarakat, khususnya nelayan, operator kapal, wisatawan, dan warga pesisir Jakarta Utara agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang laut selama periode Monsun Australia. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok, Laras Kinanthi, menjelaskan bahwa cuaca cerah di darat belum tentu menunjukkan kondisi laut yang aman.

Menurut Laras, Monsun Australia merupakan pola angin musiman yang bertiup dari wilayah Australia menuju Asia dan menjadi salah satu penyebab utama musim kemarau di sebagian besar Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan berkurang, cuaca lebih panas pada siang hari, serta angin timur hingga tenggara bertiup lebih konsisten di wilayah Laut Jawa.

Ilustrasi citra satelit yang menunjukkan peningkatan aktivitas konvektif berupa tutupan awan di Australia bagian utara saat fase aktif Madden-Julian Oscillation. Citra diolah oleh Bureau of Meteorology Australia menggunakan data satelit geostasioner MTSAT-1R milik Japan Meteorological Agency. (Foto: gov.au)

"Cuaca cerah di Jakarta belum tentu menunjukkan laut dalam kondisi aman. Gelombang laut lebih dipengaruhi kondisi angin di atas laut dibandingkan kondisi langit di darat, sehingga masyarakat perlu memantau prakiraan cuaca maritim dan informasi tinggi gelombang," ujar Laras pada acara siaran radio Majalah Udara Kentongan di Radio Republik Indonesia atau RRI Pro 1 Jakarta 91,2 FM, Selasa, 21 Juli 2026.

Ia menjelaskan, selama periode Juni hingga September, tinggi gelombang di perairan Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta, hingga perairan utara Jawa Barat cenderung meningkat dibandingkan masa peralihan. Meski umumnya tidak setinggi gelombang di Samudra Hindia, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai terutama oleh kapal nelayan, kapal penumpang, kapal wisata, dan kapal berukuran kecil.

Laras mengatakan masyarakat yang akan melakukan aktivitas di laut perlu memperhatikan prakiraan cuaca, tinggi gelombang, arah dan kecepatan angin, serta informasi pasang surut dan potensi banjir rob. Ia juga mengingatkan masyarakat agar selalu mengikuti peringatan dini cuaca maritim yang diterbitkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebelum berlayar.

"Informasi cuaca maritim tidak hanya penting bagi nelayan, tetapi juga wisatawan menuju Kepulauan Seribu, operator kapal wisata, penyelam, pemancing, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir agar dapat merencanakan aktivitas dengan lebih aman," ucap Laras.

Berdasarkan prakiraan BMKG, dalam sepekan ke depan wilayah Jakarta Utara diperkirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan dengan peluang hujan lokal pada sore hingga malam hari. Tinggi gelombang di Teluk Jakarta diprakirakan berkisar 0,1 hingga 0,5 meter atau berada pada kategori tenang hingga rendah, namun masyarakat tetap diminta memperhatikan kemungkinan penguatan angin dan pembaruan peringatan dini.

Selain itu, Laras menyampaikan potensi banjir rob di wilayah Jakarta Utara diperkirakan terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026 hingga Kamis, 30 Juli 2026, dengan puncak pasang maksimum sekitar pukul 18.00 hingga 23.00 WIB akibat fase bulan purnama. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat di kawasan pesisir.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang kami akses pada Kamis, 23 Juli 2026, menunjukkan musim kemarau semakin meluas di Indonesia, meskipun hujan lokal masih berpotensi terjadi akibat dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation dan Gelombang Kelvin. Kondisi El Nino yang aktif juga diperkirakan memperkuat kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Sejalan dengan itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Kementerian KKP melalui laman resminya juga mengimbau nelayan dan pemilik kapal agar selalu mematuhi standar operasional pelayaran, memeriksa kelengkapan kapal, serta mengikuti informasi cuaca resmi sebelum melaut. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat cuaca dan gelombang laut.

"Cuaca tidak bisa kita kendalikan, tetapi risikonya dapat dikurangi melalui informasi yang tepat dan kesiapsiagaan. Jadikan informasi cuaca sebagai bagian dari perencanaan sebelum beraktivitas di laut," kata Laras.

Apa itu Monsun Australia?

Menurut Bureau of Meteorology Australia, monsun merupakan pembalikan arah angin musiman yang terjadi di wilayah tropis. Dalam konteks Australia, saat musim panas belahan selatan (sekitar November hingga April), angin berubah menjadi bertiup dari arah barat laut dan membawa udara lembap yang memicu hujan lebat di Australia bagian utara.

Sebaliknya, bagi Indonesia, terutama pada pertengahan tahun, massa udara kering dari Australia bertiup ke arah Asia sehingga memicu musim kemarau di banyak wilayah, termasuk Pulau Jawa. Oleh karena itu, periode yang dikenal di Indonesia sebagai Monsun Australia umumnya ditandai dengan cuaca lebih kering, angin timur hingga tenggara yang lebih konsisten, serta peningkatan gelombang di sejumlah perairan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....