Menanti Fajar di Kubah yang Terbakar: Nestapa dan Rindu Warga pada JIC

  • 17 Jul 2026 19:17 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Bagi sebagian besar warga Jakarta Utara, kompleks bangunan yang berdiri kokoh itu bukan sekadar tempat beribadah. Ia adalah monumen perubahan zaman. Tempat yang berdekatan dengan riwayat kelam Kramat Tunggak itu menjelma menjadi oase spiritual bernama Jakarta Islamic Center (JIC).

Namun kini, kemegahan itu menyisakan sunyi, menyisakan duka yang mendalam bagi mereka yang pernah menggantungkan ketenangan di sana.

"Sayang sekali jadinya, terbengkalai," kenang Ibu Diana (49) salah satu jemaah setia JIC, dengan nada suara yang bergetar kepada RRI Jakarta, Jum'at 17 Juli 2026.

Baginya, melihat kondisi masjid yang kini tak terurus setelah musibah kebakaran adalah sebuah kepiluan mendalam.

"Segitu dulu bagusnya kan, menanti kebakaran terus mau direnovasi lagi entah kapan. Kita tidak tahu." ujar Diana.

Langkah kaki sang ibu kini tak lagi leluasa menyusuri sudut-sudut masjid seperti sedia kala. Sebelum si jago merah melahap kubah megah itu, JIC adalah rumah kedua.

Tempat di mana ia kerap melepas penat selepas menunaikan ibadah salat, menghabiskan waktu berteman semilir angin yang sejuk, atau sekadar merebahkan diri melepas lelah sembari menunggu azan berikutnya berkumandang.

"Dulu kalau habis salat, kadang-kadang ah malas pulang, nungguin aja di situ sambil tidur-tiduran. Entar jadi gampang kalau mau salat lagi di situ," kenangnya dengan tatapan mata yang menerawang jauh.

Kini, suasananya berubah total. Pembatasan akses dilakukan demi keamanan. Pintu-pintu masjid sudah mulai ditutup rapat ketika malam beranjak menuju pukul delapan atau setengah sembilan malam. Ada bentang jarak dan perbedaan kontras yang ia rasakan antara masa lalu yang hangat dengan masa kini yang terasa asing dan dingin.

Saat ditanya apakah ada rasa rindu yang tersisa, ia tidak bisa menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya.

"Kangen banget. Banget. Paling enak ini, paling adem, enak bangetlah kalau di sini, nyaman. Saya belum pernah merasakannya di masjid-masjid lain." katanya penuh kenangan.

Sebagai warga Jakarta Utara, ada rasa bangga yang sempat membubung tinggi di dadanya. JIC adalah bukti nyata sebuah metamorfosis sempurna bagaimana sebuah tempat yang dulunya sarat maksiat bisa berubah menjadi pusat peradaban yang membawa manfaat luas bagi masyarakat. Sebuah pencapaian yang ia sebut dengan mantap, "Acung jempol lah."

Namun kini, kebanggaan itu berselimut harap-harap cemas. Di antara puing-puing yang belum tersentuh renovasi total, sang ibu dan ribuan jemaah lainnya hanya bisa terus merawat ingatan tentang sebuah tempat paling adem yang pernah mereka miliki, sembari menanti kapan rumah ibadah kebanggaan mereka akan kembali pulih seperti sedia kalai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....