Dulu Mangrove dan Sawah, Kini Pinggiran Rorotan jadi Surganya Depo Kontainer

  • 10 Jul 2026 13:16 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA — Ada satu julukan kuno yang dulu melekat pada kawasan Rorotan: Jalan Sarang Bango. Nama itu bukan isapan jempol. Pada era 1990-an, kawasan ini rumah bagi ratusan bangau, hutan mangrove yang terhubung langsung ke laut, sawah-sawah aktif, dan pohon-pohon rotan yang bahkan menjadi asal-usul nama "Rorotan" sendiri.

Tapi saat ini, julukan itu perlu diperbarui. "Dari sarang bango ke sarang debu," begitu celetukan warga yang kemudian disetujui pewawancara dengan gelak tawa kecil satu-satunya momen ringan di antara cerita tentang hilangnya ruang hidup.

"Ini bukan sarang bango lagi ya. Dari sarang bango ke sarang debu," ujar Udin kepada RRI Jakarta. Kamis 9 Juli 2026.

Tiga Dekade Silam: Mangrove, Sawah, dan Udara yang "Enak Banget"

Udin menceritakan dirinya dan keluarganya pindah ke Rorotan pada 1994. Saat itu, lanskap Rorotan masih asri.

"Dulu itu masih lebih banyak sawah. Sawah aktif yang bisa digarap," kenangnya.

Pohon rotan mungkin sudah langka, tapi di Sungai Kendal masih berdiri hutan mangrove yang terhubung ke laut eksosistem yang menyelamatkan kawasan dari abrasi dan menjadi habitat alami bangau.

"Kalau dulu udaranya ya enak banget sih. Nggak kayak sekarang yang terkontaminasi sama debu jalanan. Mobil yang masuk paling banter roda empat. Kalaupun ada truk ya truk roda enam. Bukan kayak sekarang—bannya aja buset, nggak kehitung pakai jari." kata Udin dengan nada sedih.

Tambak-tambak dan mangrove di sekitar yang kini berdiri kompleks Angkatan Laut, dulunya adalah bagian dari lanskap hijau yang menyambung langsung ke laut.

Migrasi Depo Kontainer: Dari Tanjung Priok ke "Jalur Pinggiran"

Sebelum 2015, depo kontainer terkonsentrasi di Cakung—Cilincing, KBN, Tanjung Priok. Kawasan-kawasan itu adalah "jalur nomor satu" dengan infrastruktur memadai.

Tapi kebutuhan logistik melonjak. Ekonomi meningkat. Sewa di lokasi utama melambung tinggi. Akhirnya, operator depo merambah ke "jalur-jalur pinggiran" termasuk Rorotan, kawasan yang sejatinya sudah berstatus pemukiman.

"Daerah sini tuh udah nggak layak buat depo kontainer atau pergudangan. Udah nggak layak sebenarnya. Cuma karena masih ada yang menyewakan, ya akhirnya sampai sekarang lah. Walaupun secara aturan emang udah nggak boleh aturan di kita kan dibuat kadang buat dilanggar." terang Udin.

Ratusan Truk per Hari dari 20 Gudang Lebih

Dampaknya brutal. Satu garasi kontainer hasil lahan minimum satu hektar bisa menjadi rumah bagi 50 kendaraan atau lebih. Dengan lebih dari 20 gudang yang tersebar di kawasan pemukiman, volume lalu lintas truk besar melonjak drastis tanpa peningkatan kapasitas jalan.

"Ya ratusan bisa. Saya nggak pernah ngitung tapi gudangnya aja lebih dari 20. Satu garasi minimal bisa lebih dari 50 mobil kontainer masuk." kata Udin.

Sebelum menjadi depo, lahan-lahan itu umumnya adalah rumah warga, kebun, atau tambak yang dijual atau diuruk pemiliknya untuk disewakan kembali.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Sudin Citata) Jakarta Utara Herry Priyatno menjelaskan bahwa dari hasil kajian kawasan Rorotan memang diperuntukkan untuk zona pemukiman.

"Hasil kajian identifikasi parkir kendaraan berat di Jalan Rorotan-Marunda terdapat 6 lokasi terindenfikasi sebagai parkir kendaraan berat yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang (pergub DKI Jakarta No. 31 Tahun 2022), " ujar Herry.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....