Awal Kemarau, Mengapa Jakarta Masih Sering Diguyur Hujan?

  • 23 Jun 2026 19:52 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Hujan lokal masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meskipun sebagian daerah telah memasuki musim kemarau 2026. Forecaster Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok, Siti Fadhilatunnisa, menjelaskan fenomena tersebut merupakan kondisi yang normal pada masa transisi menuju musim kemarau.

Dalam siaran Kentongan Radio Republik Indonesia atau 91,2 FM RRI Pro1 Jakarta pada Selasa, 23 Juni 2026, Siti mengatakan musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya. Menurutnya, curah hujan hanya mengalami penurunan dibandingkan musim hujan.

"Musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak ada hujan, melainkan intensitas curah hujannya yang menurun drastis di bawah 150 milimeter per bulan," ujar Siti.

Ia menjelaskan masih tingginya suhu muka laut di sejumlah wilayah Indonesia menjadi salah satu faktor yang memicu pembentukan awan hujan. Selain itu, gangguan konvergensi lokal dan kondisi atmosfer yang lembap turut mendukung pertumbuhan awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan sedang hingga lebat.

Menurut Siti, hujan lokal pada masa transisi umumnya dipicu pemanasan kuat sejak pagi hingga siang hari. Kondisi tersebut menyebabkan udara hangat naik ke atmosfer dan membentuk awan hujan yang berkembang pada sore hingga malam hari.

"Di masa transisi ke musim kemarau seperti sekarang ini, hujan lokal berpotensi terjadi terutama akibat pemanasan kuat pada pagi hingga siang hari," ucapnya.

Ia menambahkan salah satu ciri masa transisi adalah cuaca panas pada pagi hingga siang hari yang kemudian diikuti hujan lebat berdurasi singkat pada sore atau malam hari. Fenomena ini sering muncul akibat pertumbuhan cepat awan konvektif di atmosfer.

Siti menjelaskan hujan lokal merupakan hujan yang terjadi pada wilayah sempit dan tidak merata. Dalam kondisi tertentu, satu kecamatan dapat mengalami hujan lebat sementara wilayah di sekitarnya tetap cerah.

"Hujan lokal ini hujan yang terjadi pada wilayah yang relatif sempit sehingga tidak turun merata di seluruh daerah sekitarnya," kata Siti.

Ia mengungkapkan awan kumulonimbus menjadi penyebab utama hujan lokal yang disertai petir dan angin kencang. Awan tersebut tumbuh menjulang tinggi secara vertikal dan dikenal sebagai awan badai yang mampu menghasilkan cuaca ekstrem.

Lebih lanjut, Siti mengingatkan hujan lokal dapat memicu banjir, pohon tumbang hingga puting beliung. Risiko tersebut lebih besar terjadi di kawasan perkotaan yang minim daerah resapan air serta wilayah dengan banyak pohon tua yang tidak terawat.

Sementara itu, berakhirnya fenomena La Nina dan munculnya potensi El Nino juga diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca Indonesia. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, fenomena El Nino berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027.

Siti mengatakan curah hujan pada Juli hingga Oktober 2026 diperkirakan berada pada kategori sangat rendah di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Menjelang puncak musim kemarau, masyarakat diimbau tetap memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem. Masyarakat juga diminta menyiapkan perlengkapan seperti payung atau jas hujan untuk mengantisipasi hujan mendadak.

"Masyarakat dihimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang," ujar Siti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....