Tingkatkan Literasi Keamanan Siber, BSSN Gelar Festival Digital Aman

  • 18 Jun 2026 16:54 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar kegiatan Festival Digital Aman (FDA) yang mengangkat tema ”Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional”, yang diselenggarakan di Balai Kota Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi Bondan Widiawan mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan, meningkatkan kesadaran dan kapasitas literasi keamanan siber masyarakat, serta mendorong terbentuknya budaya keamanan siber nasional yang adaptif, terhadap perkembangan ancaman di ruang siber.

“Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan hanya oleh satu institusi. Dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, pelaku usaha, media, hingga masyarakat luas,” kata Bondan.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan keberhasilan transformasi digital tidak hanya diukur dari kecepatan layanan yang diberikan, melainkan juga dari kemampuan menjaga keamanan data dan sistem yang menopangnya.

“Yang kita dorong saat ini bukan sekadar smart city, tetapi smart and trusted city. Jangan sampai digital tetapi kemudian banyak kendala yang dihadapi masyarakat,” kata Marulina.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta Marulina Dewi

Marulina mengapresiasi BSSN yang dinilai konsisten meningkatkan kesadaran budaya keamanan siber melalui berbagai program literasi dan kolaborasi lintas sektor. Menurut dia, penyelenggaraan Festival Digital Aman 2026 menjadi salah satu upaya penting dalam membangun ruang digital yang aman dan terpercaya.

Lebih lanjut Marulina menjelaskan bahwa semakin pesat transformasi digital, ancaman siber yang dihadapi juga semakin kompleks. Ancaman tersebut tidak hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga aspek psikologis manusia melalui praktik rekayasa sosial (social engineering), kebocoran data pribadi, hingga penyebaran disinformasi.

“Benteng pertahanan utama kita bukan lagi firewall atau perangkat keamanan yang canggih, tetapi manusianya. Karena itu, literasi keamanan siber bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di era modern,” ujarnya.

Marulina menegaskan keamanan siber tidak bisa hanya dibebankan kepada lembaga tertentu seperti BSSN maupun unit teknologi informasi. Menurut dia, pengamanan ruang digital membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, sektor keuangan, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat.

“Kita membutuhkan sinergi yang kuat agar tercipta ruang digital yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan. Cyber security is everybody’s business, keamanan siber adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Melalui Festival Digital Aman 2026, Marulina mengajak seluruh pihak menjadikan forum tersebut sebagai wadah melahirkan aksi nyata, bukan sekadar berbagi pengetahuan. Ia berharap berbagai praktik baik yang dihasilkan dapat direplikasi dan diimplementasikan untuk memperkuat budaya sadar keamanan siber, baik di lingkungan instansi, organisasi, komunitas, maupun keluarga.

Pemprov DKI Jakarta, lanjut dia, akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menghadapi berbagai ancaman di ruang digital sehingga ekosistem digital yang aman, sehat, dan produktif dapat terwujud, baik di Jakarta maupun secara nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....