Generasi Muda Didorong Menembus Layar Dunia
- 14 Jun 2026 13:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Keyakinan bahwa industri film dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif Jakarta mendorong Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat dukungan bagi lahirnya sineas-sineas muda baru. Melalui berbagai program pembinaan dan festival film, generasi muda diharapkan tidak hanya menghasilkan karya untuk konsumsi lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang membahas pengembangan industri perfilman sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru ibu kota.
Bagi Jakarta, investasi pada generasi muda bukan sekadar urusan pengembangan seni dan budaya. Di banyak negara, kemajuan industri film justru berawal dari keberhasilan menemukan dan membina talenta-talenta baru yang kemudian berkembang menjadi penggerak industri kreatif.
Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan pengembangan industri perfilman membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku industri, hingga generasi muda sebagai pelaku utama di masa depan.
“Kami meyakini bahwa industri perfilman tidak hanya memiliki nilai budaya dan kreativitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan urban tourism, serta penggerak sektor-sektor ekonomi lainnya,” ujar Iwan.
Optimisme tersebut tercermin dari tingginya minat anak muda mengikuti Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Hingga akhir April 2026, sebanyak 178 film telah didaftarkan dalam Lensa Kompetisi Pelajar dan Mahasiswa. Sementara itu, program Jakarta Film Fund menerima 64 proposal film pendek.
Angka itu memberi gambaran bahwa minat generasi muda terhadap dunia perfilman terus tumbuh. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi mulai mengambil peran sebagai penulis cerita, sutradara, editor, kamerawan, penata suara, hingga produser.
Fenomena serupa pernah terjadi di sejumlah negara yang kini memiliki industri perfilman kuat. Korea Selatan misalnya, dikenal aktif membina sineas muda melalui festival, sekolah film, dan berbagai program pengembangan talenta. Banyak sutradara yang kini dikenal dunia memulai perjalanan mereka dari kompetisi film pendek dan proyek independen.
Singapura juga menempatkan pembinaan kreator muda sebagai bagian penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Dukungan pendanaan dan akses pelatihan diberikan agar karya-karya lokal memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas.
Jakarta ingin membangun fondasi yang tidak jauh berbeda. Kehadiran festival film dan program pendanaan diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus batu loncatan bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Bank Indonesia merupakan langkah untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus membuka ruang kreativitas yang lebih besar bagi anak muda.
“Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam menghadirkan ruang kreatif bagi generasi muda sekaligus mendorong lahirnya sumber-sumber ekonomi baru yang mampu memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota global,” kata Rano.
Di balik ratusan film yang dikirim ke JYFF tahun ini, Jakarta melihat lebih dari sekadar angka partisipasi. Ada generasi baru pembuat film yang sedang tumbuh. Jika mendapat dukungan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin karya-karya yang lahir dari ruang kelas, komunitas, dan festival lokal hari ini akan menjadi bagian dari wajah perfilman Indonesia di tingkat dunia pada masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....