Ketum IAKMI Sebut Isu Galon Picu Pubertas Dini Keliru
- 12 Jun 2026 14:13 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum (Ketum) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai anggapan yang mengaitkan pubertas dini dengan konsumsi air minum dari galon guna ulang berbahan polikarbonat merupakan pandangan yang keliru. Menurutnya, tudingan tersebut tidak didukung bukti ilmiah yang kuat dan cenderung menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks.
Hermawan menjelaskan isu tersebut kerap dikaitkan dengan keberadaan Bisphenol A (BPA), senyawa yang digunakan dalam proses pembuatan bahan polikarbonat. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan BPA dalam galon guna ulang yang beredar telah diatur dan berada dalam batas aman yang ditetapkan regulator.
“Pubertas dini akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang itu probabilitas semu. Kalau BPA-nya sendiri yang dikonsumsi baru bisa memicu genetik karena sifat toxic zat tersebut,” kata Hermawan di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada dasar ilmiah yang kuat untuk menyimpulkan bahwa konsumsi air dari galon polikarbonat menjadi penyebab pubertas dini. Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara keberadaan suatu zat dalam kemasan dengan dampak kesehatan yang benar-benar terbukti melalui penelitian.
“Jadi memang galon mengandung BPA tapi dalam kadar yang sangat aman dan terstandar,” ujarnya.
Hermawan menjelaskan bahwa pubertas dini merupakan kondisi ketika kematangan seksual terjadi lebih cepat dibandingkan usia rata-rata. Pada perempuan, pubertas umumnya terjadi pada usia 11 hingga 12 tahun, sedangkan pada laki-laki sekitar usia 15 tahun. Karena terjadi lebih cepat dari rentang usia normal, kasus tersebut tergolong relatif jarang ditemukan.
Menurut dia, pubertas dini dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan. Selain faktor biologis dan genetik, kondisi lingkungan, pola pergaulan, serta konsumsi makanan yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon juga berperan dalam proses tersebut.
“Tapi memang pubertas itu bisa distimulasi oleh berbagai hal. Bisa karena kontak sosial yang terlalu terbuka, tapi bisa juga karena faktor lingkungan, makanan yang mempengaruhi hormonal, dan yang paling pokok juga pergaulan. Ini bisa memicu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pubertas dini bukanlah kondisi yang umum terjadi. Berdasarkan data yang disampaikannya, kasus tersebut diperkirakan hanya terjadi pada sekitar satu dari 5.000 anak sehingga tergolong langka di masyarakat.
Pandangan serupa disampaikan ahli teknologi pangan Hermawan Seftiono. Ia menjelaskan bahwa BPA dan galon polikarbonat merupakan dua hal yang berbeda. BPA digunakan sebagai bahan baku pembentuk polikarbonat dan setelah proses pembentukan material selesai, senyawa tersebut menjadi bagian dari struktur polimer yang stabil.
Ketua Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Trilogi itu mengatakan migrasi BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum tidak mudah terjadi dalam kondisi penggunaan normal. Pelepasan komponen tersebut baru dimungkinkan apabila kemasan terpapar panas yang sangat tinggi.
“Pada suhu tinggi baru komponen BPA bisa lepas dari kemasan polikarbonat. BPA tidak akan bisa lepas dari kemasan pangan tanpa panas atau energi yang besar,” ujar Hermawan Seftiono.
Ia juga mengingatkan bahwa kandungan BPA pada kemasan pangan telah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dengan batas aman tertentu. Menurutnya, kadar BPA yang ditemukan pada kemasan pangan selama ini masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.
Sebelumnya, BPOM menegaskan bahwa galon guna ulang berbahan polikarbonat yang beredar di masyarakat aman digunakan sebagai kemasan air minum. BPOM juga menyatakan penggunaan galon polikarbonat secara berulang tidak meningkatkan risiko migrasi BPA ke dalam air.
Lembaga tersebut turut mengutip kajian dari European Food Safety Authority yang menyebut paparan BPA dari penggunaan galon polikarbonat berada pada tingkat yang sangat rendah sehingga belum menimbulkan risiko kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum didukung bukti ilmiah dan tetap menggunakan produk yang memenuhi standar keamanan yang berlaku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....