Harga Jengkol Melambung, Pedagang Warteg Terpaksa Hentikan Menu Favorit

  • 11 Jun 2026 17:56 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan tidak hanya meningkatkan biaya terhadap warung makan, tetapi juga memaksa pedagang mengurangi porsi bahkan menghentikan penjualan beberapa menu favorit pelanggan.

Demikian kondisi ini dialami Heni, pemilik warteg Lurahe di Kembangan Utara, Jakarta Barat.

Heni mengaku lonjakan harga terhadap sejumlah komoditas, terutama pada cabai dan jengkol, membuatnya harus beradaptasi pada menu yang dijual agar tidak mengalami kerugian.

“Itu cabai, kalau lagi kayak kemarin nyentuh Rp80.000 itu terasa banget. Terus telur, beras, dan bumbu-bumbu juga naik,” kata Heni saat ditemui di lokasi, Kamis, 11 Juni 2026.

Selain cabai, Heni mengaku harga jengkol menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga cukup terjal. Dia menyebut, harga jengkol yang biasanya dijual di pasaran berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu, sempat melonjak hingga Rp50 ribu per kilogram.

Akibatnya, ia sempat memilih tidak menjual menu jengkol karena khawatir harga jualnya tidak terjangkau oleh pelanggan.

“Ini kita jual jengkol baru ada dua hari ini. Kalau yang kemarin-kemarin itu harga di pasarnya sampai Rp50.000 makanya saya enggak berani jual, baru dua hari lagi ada ini,” ujarnya.

Menurut Heni, kenaikan serentak harga bahan pangan ini membuat para pedagang warteg berada dalam posisi sulit. Pasalnya, ketika biaya produksi terus meningkat, dirinya juga sulit untuk menaikkan harga jual lantaran khawatir malah mengurangi jumlah komsumen.

“Ya paling mengurangi porsi aja, tapi kalau buat dinaikin kita gak bisa. Soalnya kalau dinaikin pelanggannya juga pada kabur, takutnya begitu. Paling dikurangin porsi nasi sama porsi lauknya,” ucapnya.

Dia pun mengaku, kondisi ini juga berimbas pada omzet usaha yang mengalami penurunan sekitar 30 persen dalam beberapa waktu terakhir.

Tak ayal, sebelum harga bahan pokok melonjak, dagangan di warungnya sering habis saat jam makan siang sehingga harus memasak kembali untuk melayani pelanggan hingga sore hari.

Namun, kondisi saat ini sangat jomplang dibanding waktu-waktu sebelumnya lantaran jumlah pembelinya yang berkurang.

“Iya, paling sekarang mah ngabisin aja. Entar sore gini hari, cuman dipanasin aja lauknya. Biasanya mah jam 1 siang itu kita masak lagi karena sudah habis,” katanya.

Ia pun berharap harga bahan pokok dapat kembali stabil sehingga pedagang kecil tidak perlu mengurangi menu maupun porsi makanan yang dijual.

“Ya mudah-mudahan mah normal kembali ya bahan pokok semua kayak sayuran-sayuran juga normal lah, harga-harga standar yang kayak dulu lagi,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....