Harga Pangan Naik, Omzet Pedagang Warteg di Jakbar Turun 30 Persen
- 11 Jun 2026 17:57 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan dalam beberapa waktu terakhir telah dirasakan para pengusaha warteg.
Salah satunya di warteg di kawasan Kembangan Utara, Jakarta Barat, yang mengaku mengalami penurunan omzet hingga 30 persen akibat melonjaknya harga bahan pokok.
Pemilik warteg Lurahe, Heni, mengatakan kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas penting seperti beras, telur, cabai, minyak goreng, bahkan hingga kemasan plastik yang kerap digunakan untuk melayani pelanggan.
“Berdampak banget pasti buat omzetnya, dari yang pembelinya juga pada ngirit, yang biasanya lauk-pauknya banyak, sekarang lebih sedikit gitu,” kata Heni saat ditemui di wartegnya, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurut Heni, lonjakan harga cabai menjadi yang paling menusuk dompet para pengusaha warteg. Pasalnya, kata Heni, harga cabai rawit itu sempat mencapai Rp80 ribu per kilogram.
Kendati demikian, Heni mengaku belum berani menaikkan harga jual makanan. Ia khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain jika harga menu dinaikkan.
“Ya paling mengurangi porsi aja, tapi kalau buat dinaikin kita gak bisa. Soalnya kalau dinaikin pelanggannya juga pada kabur, takutnya begitu. Paling dikurangin porsi nasi sama porsi lauknya,” ucapnya.
Tak hanya itu, perilaku pelanggan pun sangat terlihat saat memilih makanan. Heni menilai, jika sebelumnya pembeli langsung memilih makanan, kini banyak yang lebih dulu menanyakan harga sebelum membeli.
“Malah ada sebagian kecil yang nawar gitu, masih ada. Ya mungkin emang lagi keadaannya lagi sulit ya jadi banyak juga yang nawar-nawar gitu,” tuturnya.
Dia menyebut pendapatan warungnya pun saat ini turun sekitar 30 persen dibandingkan periode sebelum harga bahan pangan naik.
Ia menuturkan, sebelumnya warung sering kali harus memasak ulang sayuran dan lauk setelah jam makan siang karena dagangan cepat habis.
“Iya, paling sekarang mah ngabisin aja. Entar sore gini hari, cuman dipanasin aja lauknya. Biasanya mah jam 1 siang itu kita masak lagi karena sudah habis,” katanya.
Lebih jauh Heni membeberkan bahwa kenaikan harga juga membuat beberapa menu terpaksa tidak dijual untuk sementara waktu. Salah satunya adalah jengkol yang harganya sempat melonjak hingga Rp50 ribu per kilogram.
“Ada itu jengkol yang biasanya harga Rp30.000, sekarang Rp40.000. Ini kita jual jengkol baru ada dua hari ini. Kalau yang kemarin-kemarin itu harga di pasarnya sampai Rp50.000 makanya saya enggak berani jual, baru dua hari lagi ada ini,” ujarnya.
Ia berharap harga bahan pokok dapat kembali stabil agar pelaku usaha kecil dan masyarakat tidak semakin terbebani.
“Ya mudah-mudahan mah normal kembali ya bahan pokok semua kayak sayuran-sayuran juga normal lah, harga-harga standar yang kayak dulu lagi. Beras juga jangan semakin naik,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....