Pompa Mobile Jakarta Barat Kejar Ancaman Banjir Ekstrem
- 26 Mei 2026 19:40 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta — Ancaman banjir di Jakarta Barat belum surut meski sinyal El Niño mulai menguat. Pemerintah Kota Jakarta Barat justru meningkatkan pengerukan saluran, menyiagakan puluhan pompa mobile, dan mempercepat normalisasi drainase untuk menghadapi hujan ekstrem yang masih diprediksi terjadi.
Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika atau MKG mencatat indeks El Niño pada dasarian II Mei 2026 mencapai +0,97 atau mendekati kategori moderat. Namun kondisi atmosfer lokal dan suhu muka laut yang hangat masih memicu potensi hujan lebat di Jakarta. Dalam situasi itu, Suku Dinas Sumber Daya Air atau SDA Jakarta Barat memilih bergerak cepat memperkuat kapasitas drainase dan operasional pompa di titik rawan genangan.
Kepala Seksi Pemeliharaan Drainase Sudin SDA Jakarta Barat, Yopimaidiza Siregar, mengatakan pihaknya tetap siaga meski belum memasuki puncak musim hujan. Menurut dia, kesiapsiagaan dilakukan melalui penyebaran personel, alat berat, hingga pompa mobile di sejumlah titik genangan.
“Walaupun itu musim hujan ataupun musim kemarau sekalipun, SDA Sudin Jakarta Barat ini selalu siaga,” ujar Yopi dalam program siaran radio Majalah Udara mitigasi Kentongan di Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.
Ia mengatakan Sudin SDA Jakarta Barat memiliki sekitar 40 pompa stasioner yang tersebar di sejumlah titik. Selain itu, pompa mobile dan pompa apung juga disiapkan untuk mempercepat penanganan genangan saat hujan deras terjadi.
Di balik kesiapsiagaan itu, ada persoalan lama yang belum selesai: sedimentasi saluran dan sampah rumah tangga. Menurut Yopi, pengerukan dilakukan di 12 lokasi strategis seperti Kali Mookervart, Semongol, Kali Angke, dan Kali Sepak. Sebanyak 33 alat berat dikerahkan untuk mempercepat pengerjaan.
“Kita mentargetkan kurang lebih 170 ribu meter kubik lumpur yang akan kita angkut dan dibuang ke Ancol sebagai dumping site,” ucapnya.
Pengerukan itu bukan sekadar proyek rutin. Pemerintah daerah berharap kapasitas aliran air meningkat sehingga genangan dapat lebih cepat surut dibanding musim sebelumnya. Namun di lapangan, efektivitas pengerukan masih dibayangi persoalan perilaku warga.
Yopi mengatakan sampah yang dibuang ke kali dan saluran menjadi hambatan utama aliran air. Dalam beberapa kasus, warga juga disebut membolongi tanggul tanpa izin sehingga memicu aliran balik air atau back water ke kawasan permukiman.
“Seberapa bagus pun infrastruktur yang dibangun, itu tidak akan optimal apabila tidak didukung perilaku masyarakat,” kata Yopi.
Jakarta Barat selama ini menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan banjir tinggi di Ibu Kota. Kawasan Daan Mogot dan Kali Mookervart termasuk titik yang terus menjadi perhatian pemerintah daerah. Di lokasi itu, Sudin SDA bahkan menyiapkan renovasi rumah pompa untuk memperkuat kapasitas pengendalian air.
Selain pengerukan, normalisasi saluran lingkungan juga dikebut di delapan kecamatan. Saluran dengan lebar 40 hingga 100 sentimeter diperbaiki berdasarkan usulan wilayah dan prioritas genangan.
“Normalisasi saluran ini bagian dari sistem aliran supaya air lebih cepat menuju kali,” ujar Yopi.
Persoalan lain muncul pada kesiapan pompa mobile. Menurut Yopi, pompa membutuhkan masa istirahat agar tidak mengalami kerusakan saat beroperasi terus-menerus. Untuk mengantisipasi gangguan teknis, Sudin SDA menyiapkan sistem cadangan antarwilayah.
“Kalau satu pompa istirahat, pompa lain akan dihidupkan secara bergantian,” ucap dia.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem periode 20–24 Mei 2026. Informasi dari BMKG disebut menjadi dasar penting dalam menentukan langkah antisipasi banjir di lapangan.
“Info dari BMKG itu sangat efektif menjadi warning bagi kami untuk melakukan persiapan,” ujar Yopi.
Di luar persoalan teknis, pemerintah daerah mulai menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat. Sudin SDA Jakarta Barat rutin menggelar kerja bakti bersama kelurahan, kecamatan, RT/RW, hingga kelompok masyarakat untuk membersihkan saluran air.
Menurut Yopi, penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan pompa dan infrastruktur. Kesadaran warga menjaga lingkungan dinilai menjadi faktor paling menentukan.
“Kita saling bekerja sama, bahu-membahu membantu menangani genangan dan menjaga lingkungan tetap bersih,” kata Yopi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....