HWDI Gelar Pelatihan Kepemimpinan Feminis bagi Perempuan Disabilitas

  • 21 Mei 2026 17:29 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Dewan Pengurus Pusat Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) menggelar kegiatan Feminist Disability Leadership Training (FDLT) pada 18–21 Mei 2026. Pelatihan ini diikuti oleh 15 pemudi penyandang disabilitas dari berbagai wilayah di Indonesia.

Peserta berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Aceh, DKI Jakarta, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Penanggung jawab kegiatan, Jasmine, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan muda penyandang disabilitas.

“Pelatihan ini dirancang agar teman-teman disabilitas perempuan muda dapat menjadi pemimpin di masa depan dan lebih mampu melakukan advokasi ke berbagai pihak,” kata Jasmine saat ditemui di lokasi acara di kawasan Jakarta Barat, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, sebanyak 15 peserta yang terlibat telah melalui proses seleksi yang ketat. Dari sekitar 50 pendaftar, para calon peserta terlebih dahulu mengikuti tahapan kurasi, termasuk kelas daring dan penugasan.

“Kami mengkurasi berdasarkan pendaftaran, lalu kami juga ada kelas online. Di kelas online kami berikan tugas, lalu setelah setelah tugas itu diberikan, kami cek satu per satu, kami nilai satu per satu, lalu terkurasilah dari 50 peserta jadi 15 peserta,” kata Jasmine.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari kepemimpinan, pemahaman hukum, hingga hak-hak penyandang disabilitas. Selain itu, peserta juga didorong untuk menyusun rencana aksi (action plan) yang nantinya akan diterapkan di daerah masing-masing.

Menurut Jasmine, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong regenerasi kepemimpinan di kalangan perempuan disabilitas agar lebih mandiri dan berdaya.

“Kami ingin ada regenerasi kepemimpinan disabilitas untuk teman-teman muda supaya lebih bisa mengadvokasi, kembali lagi bisa mengadvokasi, secara mandiri dan juga bisa memimpin teman-teman komunitasnya secara lebih berdaya lagi,” ujarnya.

Meski menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan, pihak penyelenggara memastikan kegiatan tetap berjalan dengan baik. Ke depan, program serupa direncanakan akan terus dikembangkan dengan konsep yang lebih variatif.

“Ke depan akan ada kegiatan lanjutan dengan konsep yang lebih beragam dan menarik,” katanya.

Ia berharap, melalui pelatihan ini, para peserta dapat semakin percaya diri, memahami strategi advokasi, serta aktif memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

“Semoga mereka semakin berani, mampu mengadvokasi dengan strategi yang tepat, dan dapat menginspirasi sesama penyandang disabilitas lainnya,” tutup Jasmine.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....