Dua Dekade Menantang Rob: Potret Daratan Cangkang Kerang Muara Angke

  • 19 Mei 2026 14:27 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, menyimpan cerita unik tentang ketangguhan warganya dalam menghadapi tantangan alam. Bu Carwiti (49), seorang warga yang telah menetap selama 22 tahun di RT 06, mengisahkan bagaimana wilayah yang dulunya merupakan lautan lepas kini berubah menjadi pemukiman padat penduduk.

Menurut Carwiti, daratan yang ia tempati sekarang tidak terbentuk secara alami, melainkan hasil dari tumpukan cangkang kerang hijau selama bertahun-tahun.

"Dulu ini laut, bukan rumah. Rumah saya dulu di atas empang, pakai panggung. Karena usaha orang kerang hijau, kulitnya dibuang buat menguruk (ngarug), lama-lama jadi jalanan, jadi lahan bagus begini," kenang Carwiti saat ditemui RRI Jakarta di depan rumahnya yang masih tergenang air pasang. Senin 18 Mei 2016.

Infrastruktur Baru: Membantu Sekaligus Menantang

Kehadiran pembangunan jalan baru yang ditinggikan sebagai bentuk mitigasi banjir rob dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membawa dampak yang kontras bagi warga. Di satu sisi, jalan tersebut mempermudah akses mobilitas warga, terutama bagi mereka yang bekerja di pelabuhan dan anak-anak yang pergi ke sekolah.

"Sangat membantu masyarakat yang kerja dan sekolah. Anak-anak naik sepeda jadi enak. Kalau banjir gede, motor bisa ditaruh di atas jalan, jadi aman," ujarnya.

Namun, Carwiti juga mengungkapkan dampak lain dari peninggian jalan tersebut. Karena posisi jalan yang lebih tinggi dari rumah warga, air banjir rob cenderung "terperangkap" dan lebih lama surut. Jika sebelumnya air bisa surut dalam waktu 1-2 jam karena menyebar luas, kini genangan di depan rumahnya bisa bertahan seharian.

"Dulu kalau banjir cepat surutnya, sekarang bisa seharian karena airnya diam di sini, nggak bisa keluar terhalang jalan tinggi. Tapi ya dinikmati saja, sudah biasa," tambahnya dengan nada pasrah.

Harapan Akan Tanggul Permanen

Meski sudah memiliki akses jalan yang bagus, Carwiti dan warga lainnya tetap menyimpan harapan besar kepada pemerintah agar segera membangun tanggul permanen (sea wall) yang menyeluruh.

Bagi warga pesisir seperti Carwiti, banjir rob adalah tamu rutin yang datang hampir setiap malam, terutama pada bulan-bulan tertentu. Ia mendambakan wilayahnya bisa benar-benar kering agar aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu oleh air laut.

"Harapan saya cuma satu, pengennya dibikin tanggul biar enak. Biar nggak banjir terus setiap hari. Kalau ada tanggul kan wilayah air dan daratan jadi jelas, kita tinggal juga jadi nyaman," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....