Manusia Silver: Bertaruh Kesehatan dengan Cat Kimia demi Bertahan Hidup di Jalanan

  • 16 Mei 2026 09:43 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA– Di balik kemilau cat perak yang menyelimuti tubuhnya, tersimpan kisah perjuangan hidup yang getir. Wahyu Ningsih (23), seorang ibu muda di Jakarta, terpaksa turun ke jalan menjadi "Manusia Silver" demi menyambung hidup dan menghidupi buah hatinya.

Wahyu mengaku baru memulai profesi ini sejak awal Januari tahun ini. Keputusan sulit ini ia ambil setelah kehilangan pekerjaan sebagai petugas housekeeping di kawasan Ancol akibat dampak pandemi COVID-19. Dengan ijazah yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD), Wahyu mengaku kesulitan mencari pekerjaan formal yang layak.

"Sudah nyoba cari kerjaan lain, cuma kan ijazah saya SD, jadi nggak diterima di mana-mana. Akhirnya turun ke jalanan," ungkap Wahyu kepada RRI Jakarta, Jumat 15 Mai 2026.

Setiap harinya, Wahyu berangkat sekitar pukul 10 pagi dengan cara "nge-BM" atau menumpang di bak truk kontainer untuk menuju lokasi kerjanya. Ia baru akan pulang sekitar pukul 5 sore. Untuk merubah penampilannya, ia menggunakan campuran cat kimia dan minyak sayur.

Meski terlihat unik, Wahyu tak menampik adanya risiko kesehatan. Ia kerap merasakan gatal-gatal dan rasa panas di kulit, terutama jika terpapar sinar matahari dalam waktu lama atau terkena debu jalanan. Untuk membersihkan cat pekat tersebut, ia hanya mengandalkan sabun cuci piring.

Dari hasil berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, Wahyu bisa mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp100.000 hingga Rp250.000 per hari. Namun, jumlah tersebut belum dipotong biaya makan dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Tak hanya risiko kesehatan, ancaman penertiban dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga membayangi kesehariannya. Wahyu menceritakan bahwa suaminya, yang juga berprofesi sebagai Manusia Silver, pernah terjaring razia dan harus menjalani pembinaan di panti sosial selama satu bulan.

Meski kini tinggal di kontrakan sempit berukuran 3x3 meter dengan biaya Rp300.000 per bulan, Wahyu tetap menyimpan harapan besar. Ia mengaku lelah dan malu terus berada di jalanan, namun tuntutan ekonomi tak memberinya banyak pilihan.

Wahyu sangat berharap pemerintah atau pihak terkait dapat memberikan kesempatan kerja yang lebih layak bagi warga seperti dirinya, meskipun hanya berbekal ijazah SD.

"Pengen banget (kerja layak). Saya juga nggak mau di jalanan terus, ada rasa bosannya, malunya juga. Kalau ada kerjaan jadi PPSU atau SPG yang nerima ijazah SD, saya mau banget," pungkasnya penuh harap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....