Rorotan Pionir Pengelolaan Sampah: Olah 8 Ton Limbah Organik tanpa ke Bantar Gebang
- 15 Mei 2026 19:14 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, kini tengah menjadi sorotan sebagai kelurahan percontohan dalam pengelolaan sampah di DKI Jakarta. Melalui program pemilahan sampah dari sumbernya, wilayah ini berhasil meningkatkan volume pengolahan limbah organik secara signifikan, sekaligus mengurangi beban Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Dua sosok penggerak di balik keberhasilan ini adalah Ibu Nani Darsonowati (46) dan Ibu Tina (40), yang merupakan warga sekaligus kader Gerakan Pemilahan Sampah (GPS) RW 07 Kelurahan Rorotan. Mereka mengungkapkan bahwa meskipun program ini sudah mulai dirancang sejak setahun lalu, intensifikasi dan penguatan fasilitas mulai digencarkan pada Februari 2026.
Peningkatan Volume Pengolahan yang Signifikan
Keberhasilan program ini terlihat jelas dari data volume sampah yang berhasil dikumpulkan. Ibu Nani menjelaskan bahwa awalnya satu kelurahan rata-rata hanya mengumpulkan sekitar 4 ton sampah untuk diolah. Namun, per April 2026, jumlah tersebut melonjak hingga mencapai 8 ton.
"Di RW 07 saja, dalam satu minggu ada tiga kali jadwal pengangkutan. Setiap kali angkut, volume sampah organik yang terkumpul mencapai 1 ton. Jadi, dalam satu minggu satu RW bisa menyumbang 3 ton sampah yang terpilah," ujar Nani kepada RRI Jakarta, Jum'at 15 Mei 2026.
Inovasi Sampah Menjadi Bubur Organik
Salah satu poin utama dari program di Rorotan adalah pengolahan sampah organik rumah tangga atau yang dikenal dengan SOD (Sampah Olahan Dapur). Alih-alih dibuang ke TPA, sampah organik ini diolah menjadi bubur organik yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk kompos maupun pakan ternak/maggot.
"Sampah-sampah ini kami olah sendiri, dijadikan bubur, bukan dibuang ke Bantar Gebang. Ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan lingkungan yang lebih mandiri dalam menangani limbahnya," tambah Ibu Tina.
Tantangan Edukasi dan Kesadaran Warga
Meski menunjukkan hasil yang positif, para kader GPS mengakui bahwa tantangan terbesar terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Menurut mereka, tingkat kesadaran dan kepedulian sosial setiap warga belum seragam.
"Kendala utama kami adalah edukasi yang harus dilakukan secara bertahap. Mengubah pola pikir masyarakat agar mau memilah sampah dari rumah itu tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra. Tapi kami tidak akan berhenti untuk terus memberikan edukasi," jelas Ibu Nani.
Dukungan dari pemerintah kota, kecamatan, hingga kelurahan melalui kader Dasawisma dan pengurus RT setempat terus mengalir untuk memastikan Rorotan tetap menjadi role model bagi wilayah lain di Jakarta. Dengan sinergi antara fasilitas yang memadai dan partisipasi aktif warga, Kelurahan Rorotan optimis dapat menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....