Menuju Rorotan Bebas Sampah: Antara Fasilitas, Edukasi, dan Penutupan Bantar Gebang
- 15 Mei 2026 19:09 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, kini tengah menjadi pusat perhatian sebagai wilayah percontohan pengolahan sampah di tingkat nasional. Program yang merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini bertujuan untuk mengubah pola pikir warga dalam menangani limbah rumah tangga.
Sejak dicanangkan secara intensif pada Februari lalu, Kelurahan Rorotan telah dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung seperti ember khusus, tong drop point, hingga sistem Loseda (Lubang Sampah Organik Dapur). Fasilitas ini diharapkan mempermudah warga dalam memilah sampah organik dan non-organik langsung dari sumbernya.
Tantangan Mengubah Perilaku Warga
Meski fasilitas sudah tersedia, mengubah perilaku masyarakat tetap menjadi tantangan terbesar. Bu Nani, salah satu penggiat lingkungan dan kader di Rorotan, mengungkapkan bahwa respon warga sangat beragam.
"Ada warga yang sudah sadar dan langsung memilah, tapi ada juga yang masih meremehkan. Alasan mereka macam-macam, mulai dari capek, bosan, sampai bertanya apakah memilah sampah organik ada uangnya," ujar Nani Ketika ditemui RRI Jakarta, Jum'at 15 Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa peran edukasi harus dilakukan secara konsisten dan sabar. Baginya, pekerjaan ini adalah kerja sosial yang dilakukan dari hati, meski terkadang harus menghadapi cibiran dari warga yang belum paham manfaat jangka panjangnya.
Isu Bantar Gebang Jadi Pemicu Kesadaran
Salah satu faktor yang kini mulai memicu kesadaran warga adalah isu penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang dikabarkan akan penuh atau ditutup pada bulan Agustus mendatang.
"Kabar Bantar Gebang tutup di bulan Agustus itu jadi peringatan buat warga. Mereka mulai berpikir, 'kalau tutup, sampah kita mau dibuang ke mana?'. Hal ini sedikit banyak membantu kami dalam mengedukasi masyarakat agar lebih serius mengelola sampah secara mandiri," tambahnya.
Harapan Ekonomi Sirkular dan Kendala Lahan
Selain pengolahan sampah organik, penguatan Bank Sampah juga menjadi target utama di Rorotan untuk menciptakan ekonomi sirkular. Namun, program ini masih terkendala oleh terbatasnya lahan untuk titik penimbangan sampah yang permanen.
Warga seringkali lebih memilih menjual sampah mereka ke pengepul luar (tengkulak) karena harga yang dianggap lebih kompetitif dan proses yang lebih cepat, meskipun dukungan pemerintah melalui Bank Sampah menawarkan manajemen yang lebih terstruktur.
Melalui program percontohan ini, pemerintah berharap Kelurahan Rorotan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Jakarta. Dengan sinergi antara ketersediaan fasilitas dan kesadaran masyarakat, target agar hanya sampah residu saja yang sampai ke tempat pembuangan akhir diharapkan dapat segera tercapai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....