Warta Koja Bayar Sekolah PAUD Pakai Sampah hingga Masak Rendang tanpa Gas Elpiji
- 12 Mei 2026 18:39 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Sebuah gang sempit di wilayah Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, kini menjadi sorotan karena transformasinya yang luar biasa. Wilayah yang dulunya dikenal sebagai lahan "tidur" yang rawan kriminalitas dan tempat pembuangan sampah liar, kini berubah menjadi kawasan produktif bernama Gang Hijau Cemara.
Adalah Dani Arwanto (51), sosok penggerak di balik perubahan ini. Dimulai sejak tahun 2016, Dani merasa prihatin dengan kondisi sosial dan lingkungan di sekitarnya yang sempat terdampak oleh sejarah kelam kawasan lokalisasi Kramat Tunggak. Ia kemudian menginisiasi gerakan urban farming dan pengelolaan sampah mandiri.
Lahan yang dulunya dipenuhi sampah plastik dan kulit kerang kini telah disulap menjadi kebun produktif. Tidak tanggung-tanggung, Dani berhasil membudidayakan lebih dari 23 jenis anggur di Gang Hijau Cemara.
“Kami berupaya merubah mindset warga, terutama remaja, agar memiliki kegiatan positif. Sekarang, kawasan ini bukan lagi tempat mojok atau buang sampah, tapi menjadi lumbung pangan keluarga,” ujar Dani ketika ditemui RRI Jakarta, Senin 11 Mai 2026.
Kebun anggur ini mampu dipanen dua kali setahun dengan hasil rata-rata 10 kilogram per pohon.
Salah satu inovasi paling mutakhir dari Gang Hijau Cemara adalah pembuatan pelet biomassa. Limbah organik keras seperti ranting pohon dan sisa kayu bangunan yang biasanya ditolak oleh TPA, diolah Dani menjadi bahan bakar alternatif.
Hasilnya sangat efisien. Dani mengklaim bahwa 1 kilogram pelet biomassa karyanya mampu digunakan untuk memasak rendang selama tiga jam hingga matang. Inovasi ini menjadi solusi nyata di tengah kenaikan harga gas elpiji dan permasalahan sampah kayu di Jakarta.
Pengelolaan sampah di wilayah ini tidak hanya berhenti pada kebersihan, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi dan pendidikan. Melalui sistem Bank Sampah, warga dapat membayar iuran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menggunakan sampah plastik.
Setiap bulan, orang tua murid cukup menyetorkan minimal 2 kilogram botol plastik (setara Rp6.000) untuk membiayai sekolah anak mereka. Bahkan, banyak warga yang memiliki saldo tabungan sampah hingga Rp500.000 yang digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak.
“Sampah organik kami olah jadi pakan maggot dan pupuk, sedangkan anorganik seperti botol plastik, minyak jelantah, hingga tutup botol memiliki nilai ekonomi bagi warga,” tambahnya.
Kini, Gang Hijau Cemara juga berkolaborasi sebagai Basecamp Kampung Pramuka Jakarta Utara. Meski dikerjakan secara sukarela oleh para kader seperti Ibu Erlina (46) dan kawan-kawan tanpa gaji tetap, semangat mereka tidak surut.
Dani berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih, terutama dalam pengembangan teknologi pasca-panen dan kompor khusus biomassa agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
Kisah dari Koja ini menjadi bukti bahwa dengan kreativitas, semangat gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan, masalah perkotaan yang pelik sekalipun dapat diubah menjadi berkah yang menyejahterakan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....