Bank Sampah di Jakarta Utara Berhasil Bayar Gaji Guru PAUD

  • 11 Mei 2026 08:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Jakarta Utara mampu memberikan dampak sosial yang luas bagi lingkungan sekitar. Melalui program Bank Sampah, warga tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu membayar gaji guru Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD serta pembangunan tempat ibadah.

Program tersebut dikelola oleh kader Dasa Wisma sejak 2019 dengan melibatkan masyarakat sekitar. Ita (35), pengelola Bank Sampah sekaligus koordinator Dasa Wisma, mengatakan kegiatan itu berawal dari semangat sukarela untuk mengedukasi warga mengenai pentingnya memilah sampah rumah tangga.

“Keuntungannya kita bisa mempelajari cara memilah sampah dan mengajak masyarakat hidup bersih. Di sini sifatnya lebih banyak sukarela karena kita tidak berharap gaji, melainkan ilmu dan manfaat untuk sesama,” ujar Ita kepada RRI Jakarta, Minggu, 10 Mei 2026.

Salah satu inovasi yang diterapkan dalam program Bank Sampah tersebut adalah pembayaran sekolah PAUD menggunakan sampah plastik. Setiap bulan, orang tua murid diminta mengumpulkan botol plastik seberat 2 kilogram yang nilainya setara Rp6.000 untuk membantu operasional sekolah.

Dana hasil penjualan sampah kemudian digunakan untuk membantu pembayaran gaji guru Pendidikan Anak Usia Dini bersama dukungan pengurus RT, RW, dan Lembaga Musyawarah Kelurahan. Saat ini terdapat empat guru Pendidikan Anak Usia Dini yang menerima honor dari hasil pengelolaan sampah dan iuran warga dengan kisaran Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per bulan.

Tidak hanya untuk pendidikan, hasil pengelolaan Bank Sampah juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sosial di lingkungan warga. Kader Dasa Wisma mampu mengumpulkan dana hingga Rp3 juta per tahun dari hasil penjualan botol plastik, kardus, dan minyak jelantah untuk santunan anak yatim.

Selain itu, hasil pemilahan sampah juga digunakan membantu pembangunan dan renovasi musholla di wilayah RT 07. Di wilayah RT 09, hasil penjualan sampah bahkan dimanfaatkan untuk membiayai guru les bagi anak-anak di lingkungan masjid.

Ita mengatakan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah kini meningkat signifikan dibandingkan beberapa tahun lalu. Hal itu terlihat dari jumlah nasabah Bank Sampah yang meningkat hampir dua kali lipat dari sekitar 50 orang menjadi hampir 100 nasabah.

“Alhamdulillah respons warga sangat baik. Sekarang mereka lebih memilih menimbang sampah di sini karena hasilnya kembali lagi ke masyarakat untuk aksi sosial,” kata Ita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....