Inflasi DKI April 2026 Capai 0,21 Persen, Transportasi Jadi Penyumbang Utama
- 04 Mei 2026 15:07 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat inflasi pada April 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat sebesar 1,12 persen.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan kenaikan inflasi pada April didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran, terutama sektor transportasi. Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 1,46 persen dengan andil 0,19 persen terhadap inflasi bulanan.
“Inflasi pada April 2026 secara bulanan tercatat sebesar 0,21 persen. Pendorong utamanya berasal dari kelompok transportasi yang mengalami inflasi 1,46 persen dengan andil 0,19 persen,” ujar Kadarmanto.
Selain transportasi, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga turut menyumbang inflasi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,09 persen. Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 0,52 persen dengan kontribusi 0,03 persen.
Di sisi lain, terdapat dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yakni makanan, minuman, dan tembakau serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kedua kelompok tersebut masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,36 persen dan 0,69 persen sehingga membantu menahan laju inflasi.
Dari sisi komoditas, angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan harga mencapai 14,94 persen dan andil sebesar 0,15 persen. Selain itu, komoditas seperti beras, ayam goreng, minyak goreng, dan bensin juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi.
“Angkutan udara menjadi penyumbang terbesar inflasi April dengan inflasi 14,94 persen dan andil 0,15 persen. Komoditas lain seperti beras, ayam goreng, minyak goreng, dan bensin juga turut menyumbang inflasi,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi dan membantu meredam inflasi, di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, angkutan antarkota, serta telur ayam ras.
Kadarmanto menambahkan, inflasi pada April 2026 yang merupakan periode pasca-Lebaran cenderung lebih rendah dibandingkan saat Ramadan dan Lebaran. Hal ini dipengaruhi oleh normalisasi harga setelah sebelumnya mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan.
“Inflasi pasca-Lebaran umumnya lebih rendah karena adanya penyesuaian harga setelah periode Ramadan dan Lebaran, sehingga turut menahan laju inflasi pada April,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....