Waduk Rawa Malang Terkurung Tembok dan Ilalang

  • 21 Apr 2026 07:08 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA– Di balik deru kendaraan di jalan tol dan padatnya pemukiman Kampung Rawa Malang, Jakarta Utara, membentang sebuah hamparan air yang seharusnya menjadi kebanggaan warga. Waduk Rawa Malang, sebuah proyek infrastruktur yang baru saja rampung pada periode 2023-2024, kini justru tampak layu sebelum berkembang. Bukannya menjadi paru-paru hijau atau ruang interaksi warga, waduk ini malah terkesan seperti "permata yang tersembunyi" di balik tembok beton dan rimbunnya semak belukar.

Ahmad Saddam, seorang warga sekaligus pengurus RT 09/RW 10 Kelurahan Semper Timur, menatap nanar ke arah waduk yang kini tak terawat itu. Baginya, kondisi waduk saat ini adalah sebuah ironi besar.

“Kondisinya seperti yang Abang lihat sendiri, kurang terawat,” keluh Saddam saat ditemui RRI Jakarta di lokasi. Senin 20 April 2026.

“Petugas perawatannya tidak ada. Yang ada hanya petugas SDA di rumah pompa saja. Kami sebagai warga juga bingung, ada waduk tapi tidak ada pintu akses masuknya.”

Padahal, memori indah tentang waduk ini masih terekam jelas di benak warga. Sebelum kondisinya menurun drastis dalam setahun terakhir, Waduk Rawa Malang adalah magnet bagi warga sekitar. Setiap pagi dan sore, kawasan ini riuh oleh langkah kaki warga yang berolahraga. Ibu-ibu membawa anak-anak mereka untuk menghirup udara segar, sementara para pemuda memanfaatkannya sebagai jalur joging yang ideal.

Namun, kejayaan singkat itu memudar. Aliran air dari saluran pembuangan warga yang membawa endapan lumpur kini memenuhi sebagian sisi waduk. Bau tak sedap dan genangan lumpur membuat warga enggan kembali. "Dulu saya sering joging di sini, ibu-ibu juga banyak. Tapi sekarang karena banyak genangan lumpur, warga jadi agak segan," cerita Saddam.

Tak hanya masalah lingkungan, minimnya pengawasan sempat menjadikan area sepi ini sebagai lokasi favorit oknum untuk melakukan aksi tawuran. Meski belakangan situasi mulai kondusif berkat kerja sama pengurus wilayah, Bimas, dan pihak kelurahan, bayang-bayang kerawanan tetap menghantui jika waduk ini terus dibiarkan tanpa pengelolaan yang jelas.

Warga Rawa Malang sebenarnya memiliki impian besar. Mereka membayangkan waduk ini bisa bertransformasi menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial, serupa dengan Danau Sunter di Jakarta Utara.

Aspirasi warga cukup sederhana namun bermakna: mereka ingin ada akses jalan yang layak, kegiatan Car Free Day (CFD) setiap akhir pekan, hingga ruang bagi pelaku UMKM lokal untuk menjajakan dagangannya. Potensi wisata air dan ruang publik ini diyakini mampu menghidupkan ekonomi warga Kelurahan Semper Timur dan Cilincing.

Namun, mimpi itu terbentur birokrasi. "Kami bingung mau minta izin atau bersurat ke mana kalau mau memanfaatkan tempat ini sebagai lokasi wisata atau acara warga. Belum ada kejelasan," kata Saddam.

Pembangunan waduk ini bukanlah proyek murah. Dana yang berasal dari pajak rakyat telah dikucurkan dalam jumlah besar untuk menciptakan sistem pengendali banjir sekaligus ruang terbuka. Warga berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun Pemerintah Kota Jakarta Utara tidak menutup mata.

“Harapan kami, mohon diperhatikan lagi fasilitas ini agar lebih efektif gunanya untuk masyarakat. Jangan sampai pembangunan yang memakan uang rakyat sebanyak ini jadi sia-sia atau mubazir karena tidak terawat,” tutup Saddam penuh harap.

Kini, Waduk Rawamalang masih menanti sentuhan tangan pemerintah. Di balik tembok tinggi dan pagar besi yang mengelilinginya, tersimpan potensi besar yang hanya butuh sedikit perhatian untuk bisa kembali "bernapas" dan memberi manfaat bagi warga yang merindukan ruang terbuka hijau di tengah sesaknya ibu kota

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....