Pengusaha Tahu-Tempe Hadapi Tantangan Harga Bahan Baku

  • 20 Apr 2026 17:29 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Beralih profesi dari nelayan menjadi perajin tempe, Holik (35) kini menggantungkan hidupnya di sebuah pabrik tempe rumahan di kawasan Jakarta Utara. Dengan ketekunan dan kerja keras, perantau asal Pemalang ini mampu menghasilkan hingga satu kuintal tempe setiap harinya untuk dipasok ke pasar-pasar lokal.

Menurut Holik, saat diwawancarai RRI Jakarta, Minggu 19 April 2016 bahwa proses pembuatan tempe membutuhkan waktu sekitar tiga hari hingga siap jual. Tahapannya dimulai dari perebusan kedelai selama 2,5 jam, kemudian direndam selama satu hari satu malam.

"Setelah direndam, baru diproses, dicuci, dan dicetak. Setelah itu didiamkan lagi satu hari satu malam untuk proses penjamuran (fermentasi). Totalnya tiga hari baru jadi tempe yang siap dijual ke pasar," jelas Holik. Ia biasanya mulai bekerja dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 13.00 siang.

Meski terlihat sederhana, profesi perajin tempe memberikan penghasilan yang cukup kompetitif. Holik mengungkapkan bahwa ia mendapatkan upah harian sekaligus gaji bulanan.

"Harian dapat Rp150.000, terus per bulan ada gaji tetap Rp1.000.000. Kalau ditotal sebulan bisa dapat Rp4,5 juta sampai Rp5,5 juta," ungkapnya. Nilai ini menurutnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ditabung untuk keluarga di kampung halaman.

Namun, besarnya pendapatan tersebut sebanding dengan beban kerjanya. Holik mengaku hampir tidak pernah memiliki hari libur karena permintaan pasar yang terus ada setiap hari. "Susahnya ya kesal saja karena enggak ada liburnya. Produksi terus buat pasar," tambahnya.

Sama halnya dengan pengelola pabrik tahu, Holik juga merasakan dampak kenaikan harga kedelai yang cukup signifikan akibat fluktuasi harga global. Meski harga bahan baku naik, ia bersyukur permintaan tempe di pasar tetap stabil dan tidak mengurangi volume produksinya.

"Harapannya harga kacang kedelai bisa cepat turun lagi supaya produksinya lebih tenang," harap Holik.

Di sisi lain, meski memiliki penghasilan yang cukup baik, Holik mengaku belum memiliki jaminan kesehatan seperti BPJS. Jika sakit, ia biasanya berobat secara mandiri. Saat ini, Holik tinggal di mes (asrama) yang disediakan oleh pemilik pabrik, sehingga ia bisa lebih hemat dalam biaya tempat tinggal dan transportasi.

Kisah Bang Holik memberikan gambaran mengenai ketangguhan para pekerja sektor informal di Jakarta yang tetap produktif menjaga rantai pasok pangan lokal meski harus merelakan waktu istirahat dan belum mendapatkan jaminan perlindungan kesehatan yang memadai

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....