Ledakan Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Sungai Jakarta

  • 13 Apr 2026 10:47 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang mengganggu ekosistem sungai.
  • Populasinya meningkat akibat pencemaran dan aktivitas manusia.
  • Upaya pengendalian dilakukan, namun solusi jangka panjang masih dicari.

RRI.CO.ID, Jakarta – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai Jakarta menjadi alarm serius bagi keseimbangan ekosistem, sekaligus membuka pertanyaan tentang akar masalah yang selama ini tersembunyi.

Fenomena maraknya ikan sapu-sapu di aliran sungai seperti Ciliwung dan Cideng tidak terjadi secara tiba-tiba. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian atau KPKP DKI Jakarta bilang, populasi ikan ini meningkat dan mengandung bakteri salmonella dan residu logam berat yang berbahaya jika dikonsumsi masyarakat.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok. (Foto: website resmi Pemprov DKI Jakarta)

Baca juga:

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengatakan hasil uji laboratorium menunjukkan kondisi air sungai telah melampaui ambang batas pencemaran. “Sebenarnya bukan hal yang baru, sebelumnya juga sudah kita selesaikan permasalahan di kali Ciliwung dan kita sudah mengambil sampel ikannya kemudian mengambil sampel airnya dan memang benar di air itu ambang batas ya ambang batas cemarannya melebihi kemudian juga ikannya juga mengandung salmonella mengandung ecoli kemudian juga ada residu-residu logam-logam berat,” ujar Hasudungan dikutip website resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kami akses pada Senin, 13 April 2026.

Tiga hari sebelumnya, sekitar 100 personel gabungan dari Dinas Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Pertanian (KPKP) Provinsi DKI,Satpol PP, PPSU dan Gulkarmat Jakarta Pusat, menangkap ikan sapu-sapu di Kali Cideng, depan Plaza Indonesia, Gondangdia, Menteng. Dalam operasi penangkapan di Kali itu, sedikitnya 41 ekor ikan sapu-sapu berukuran besar berhasil diangkat. Ikan tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dikubur karena memiliki daya tahan hidup tinggi, bahkan di luar air dalam waktu lama.


“Dominasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung menunjukkan terganggunya keseimbangan ekosistem, di mana spesies ini mengambil alih ruang hidup, makanan, dan oksigen bagi ikan lokal,” ujar Arief Kamarudin, pendiri Ikan Sapu-sapu Center. (Foto: Ig @ariefkamarudin)

Di lapangan, keresahan terhadap dominasi ikan sapu-sapu juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Pendiri Ikan Sapu-sapu Center, Arief Kamarudin, mengaku fenomena ini sudah lama ia temui saat mencari ikan di Sungai Ciliwung. “Saya selalu resah, kenapa yang tertangkap itu hampir selalu sapu-sapu. Ternyata setelah saya pelajari, ikan ini invasif dan tidak baik untuk ekosistem,” ucap Arief dalam wawancara radio 91,2FM Radio Republik Indonesia atau RRI Pro1 Jakarta pada Senin, 13 April 2026.

Arief menjelaskan, ikan sapu-sapu tidak menyerang secara langsung, tetapi menguasai sumber daya penting di habitatnya. “Dia mengambil makanan, tempat hidup, bahkan oksigen. Kalau terus terjadi, spesies lain bisa kalah saing dan hilang,” ujar dia.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation memperkuat temuan tersebut. Spesies dari genus Pterygoplichthys ini terbukti mengganggu ekosistem baru dengan mengubah ketersediaan nutrisi dan interaksi antarspesies, serta mempercepat penurunan keanekaragaman hayati di wilayah yang terinvasi.

Petugas gabungan menangkap ikan sapu-sapu di Kali Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026), sebagai upaya mengendalikan spesies invasif yang mengganggu ekosistem sungai. (Foto: tangkapan layar video beritajakarta.id)

Masuknya ikan sapu-sapu ke berbagai negara, termasuk Indonesia, banyak dikaitkan dengan praktik buruk perdagangan ikan hias. Pelepasan ke alam bebas membuat spesies ini cepat menyebar dan beradaptasi, didukung kemampuan reproduksi tinggi dan daya tahan ekstrem terhadap lingkungan.

Meski berbagai upaya penangkapan terus dilakukan, Arief menilai pendekatan pemusnahan saja tidak cukup. Ia kini mulai mendorong pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai solusi alternatif. “Ke depan bukan hanya mengendalikan, tapi memanfaatkan. Kalau bisa jadi pupuk atau produk lain, ini bisa jadi solusi ekonomi sekaligus ekologis,” kata dia.

Di balik upaya tersebut, risiko yang dihadapi di lapangan tidak kecil. Arief mengaku harus berhadapan dengan ancaman kesehatan hingga keselamatan saat menyusuri sungai yang tercemar. “Risiko paling besar itu kesehatan, saya pernah sampai diare akut karena bakteri di sungai,” ujarnya.

Fenomena ikan sapu-sapu pada akhirnya menurut Arief menjadi cermin persoalan yang lebih besar: krisis kualitas lingkungan perkotaan. Bagi Arief, viralnya isu ini seharusnya dimanfaatkan untuk membangun kesadaran publik. “Masalah utamanya itu sampah dan limbah. Kalau itu tidak selesai, sapu-sapu akan terus ada,” ucapnya.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....