Derita Nelayan Cilincing Terhimpit Proyek Megah

  • 11 Apr 2026 07:47 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA– Matahari baru saja naik, namun kecemasan sudah membayang di wajah para nelayan di pesisir Kali Baru hingga Cilincing. Di tempat yang seharusnya menjadi gerbang mereka menjemput rezeki, kini yang tersisa hanyalah hamparan lumpur dan pasir yang kian dangkal. Sebuah pemandangan tragis kini menjadi lazim: anak-anak usia sepuluh tahun dapat berdiri dengan tegak di tengah kolam labuh, seolah-olah mereka memiliki mukjizat bisa berjalan di atas air.

Namun bagi nelayan seperti Pak Yunus, itu bukan mukjizat. Itu adalah bencana yang perlahan membunuh mata pencaharian mereka.

Dahulu, kolam labuh ini adalah rumah yang ramah bagi kapal-kapal nelayan. Dengan kedalaman mencapai lima meter, perahu-perahu dapat meluncur bebas tanpa rasa takut. Namun kini, akibat proses pendangkalan yang masif, kedalaman air bahkan tak sampai satu meter.

"Anak-anak umur 10 sampai 11 tahun saja bisa berdiri di atas permukaan laut. Kaki mereka langsung menempel ke pasir urugan," ujar seorang perwakilan nelayan dengan nada getir kepada RRI Jakarta. Jumat 10 April 2026.

Pendangkalan ini bukan sekadar faktor alam. Nelayan menuding proyek pembangunan jalan tol laut dan reklamasi yang sedang berlangsung sebagai dalang utamanya. Pintu muara yang dulunya luas kini menyempit, terhimpit oleh aktivitas pengurugan laut yang masif.

Bagi seorang nelayan, mesin perahu adalah jantung usaha mereka. Namun di Cilincing, jantung itu kini terancam berhenti berdetak setiap saat. Pendangkalan memaksa baling-baling (kipas) perahu bekerja ekstra keras, bergesekan langsung dengan dasar laut yang keras atau batu-batu proyek yang berserakan.

"Kekhawatiran nelayan banyak. Kalau kandas, kipas bisa patah. Belum lagi batu-batu di pinggiran dermaga. Kalau ombak besar, perahu bisa terbentur batu coran," keluh mereka.

Untuk menyiasati risiko ini, nelayan kini terpaksa mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Mereka harus menyiapkan tiga hingga empat baling-baling cadangan setiap kali melaut. Uang yang seharusnya bisa dibawa pulang untuk kebutuhan dapur, kini habis hanya untuk memastikan perahu bisa tetap berjalan.

Yang lebih menyakitkan bagi warga pesisir ini bukanlah sekadar lumpur, melainkan rasa terabaikan. Hingga saat ini, mereka mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi yang jelas dari pihak pengembang proyek terkait dampak pembangunan tersebut. Batasan-batasan area mana yang dalam dan mana yang dangkal pun tidak pernah diberikan.

"Kami bingung mau mengadu ke siapa. Sepertinya belum pernah ada sosialisasi ke nelayan," tambahnya.

Harapan nelayan sebenarnya sederhana. Mereka tidak menolak kemajuan, namun mereka meminta hak untuk tetap bisa bertahan hidup. Mereka mendesak pemerintah dan pihak proyek untuk segera melakukan pengerukan (dredging) di area yang terdampak. Selain itu, pemasangan rambu-rambu atau marka di jalur laut sangat dibutuhkan agar nelayan tahu jalur mana yang aman untuk dilalui.

Saat ini, melaut bagi nelayan Cilincing bukan lagi soal mencari ikan, melainkan soal keberanian bertaruh dengan maut dan modal. Di balik gemerlap proyek strategis yang dibangun untuk masa depan bangsa, ada ribuan nasib manusia yang kini sedang 'tercekik' oleh pasir dan semen yang mereka sebut sebagai kemajuan.

Sebelumnya RRI Jakarta telah menghubungi pihak dari pengelola Jalan Tol yang akan menghubungkan NPCT One Tanjung Priok - Marunda. Namun pihak pengelola enggan memberi respon dan menjawab pertanyaan.

"Sata belum bisa pastikan mas, " ujar pengelola saat dihubungi RRI Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....