Bertani di Lahan Jakpro Rorotan
- 09 Mar 2026 12:46 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Jakarta, Tety (45), seorang istri petani di kawasan Rorotan, Marunda, harus berjuang menyelamatkan lahan garapannya dari ancaman banjir.
Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Senin lalu membuat sawah seluas kurang lebih 2 hektare yang digarap suaminya, Astama, terendam air.
Tety mengungkapkan, lahan yang mereka garap merupakan aset milik PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Meski bukan lahan pribadi, mereka menggantungkan hidup dari padi yang ditanam di sana. Namun, cuaca ekstrem awal tahun ini membawa kecemasan tersendiri.
"Kalau hujannya terus-menerus, baru banjir parah begini. Kalau sudah banjir di jalanan setinggi ini, di dalam rumah saya sudah semata kaki," ujar Tety saat ditemui di lokasi, Senin, 9 Maret 2026.
Taruhan Modal Puluhan JutaBagi keluarga Tety, banjir bukan sekadar genangan air, melainkan ancaman hilangnya modal besar. Untuk menggarap lahan seluas 2 hektare, mereka harus merogoh kocek hingga Rp 20 juta untuk biaya pengolahan tanah, bibit, dan pupuk.
Jika panen berhasil (padi cakep), mereka bisa menghasilkan sekitar 7 ton gabah per hektare dengan potensi pendapatan kotor mencapai Rp 84 juta (asumsi harga Rp 600.000 per kuintal).
Namun, jika banjir tak kunjung surut, tanaman padi bisa membusuk dan mati, membuat modal mereka hangus tak tersisa.
"Kalau banjir begini ya padinya mati. Kalau panennya gagal, ya kita lihat kondisi. Kadang bisa balik modal pas-pasan, kadang rugi," tuturnya pasrah.
Uang Koordinasi dan Harapan WargaSelain tantangan alam, Tety juga menuturkan adanya biaya "sewa" tidak resmi yang harus dibayarkan setiap kali panen kepada pihak keamanan setempat atau warga lokal (Akamsi).
"Biasanya kalau panen bagus, kita kasih Rp 900.000. Kalau sedang, ya Rp 800.000. Itu hitungannya per panen," jelas wanita asli Subang tersebut.
Meski penuh risiko dan berdiri di atas lahan milik perusahaan daerah, Tety berharap lahan pertanian di Marunda tetap dipertahankan. Bagi warga seperti dirinya, sawah bukan hanya penyejuk mata di tengah kota, tetapi juga satu-satunya sumber mata pencaharian.
"Harapannya ya dipertahankan saja. Buat orang kecil cari makan dan usaha, ini lumayan," tutup Tety.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....