Cerita Warga Angke Huni Rumah Panggung Kemhan Gratis

  • 08 Mar 2026 12:24 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Senyum lega kini terpancar dari wajah Rokiah (60), seorang warga Muara Angke, Jakarta Utara. Selama dua tahun terakhir, ia akhirnya bisa merasakan tidur nyenyak tanpa perlu khawatir air laut pasang (rob) merendam tempat istirahatnya.

Rokiah merupakan salah satu penerima manfaat program rumah panggung yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) di kawasan tersebut.

Sebelum menempati hunian ini, Rokiah menghabiskan 40 tahun hidupnya di rumah semi permanen berbahan tripleks yang tak kuasa menahan ganasnya banjir rob.

Kepada RRI Jakarta Rokiah menceritakan betapa sulitnya kondisi hidupnya sebelum rumah panggung berdiri. Banjir rob adalah tamu tak diundang yang datang setiap hari, membawa sampah dan ketakutan.

"Dulu banjir tiap hari, enggak bisa tidur, sampah banyak. Giliran mau istirahat, air datang. Ya sudah, duduk saja di bale-bale nungguin air surut," kenang Rokiah saat ditemui di kediamannya, Minggu 8 Maret 2026.

Tak hanya masalah air, kondisi rumah lamanya yang kian amblas karena peninggian jalan membuatnya hidup dalam kecemasan. Ia bahkan kerap meninggikan lantai rumah (ngurug) hingga atap menjadi sangat rendah.

"Kalau ditinggikan, atapnya makin pendek sampai saya nunduk-nunduk. Kalau air datang malam, saya pakai sepatu boots terus duduk diam. Takut ada ular," ujarnya.

Sebagai seorang pengupas kerang hijau, merenovasi rumah adalah impian yang sulit dijangkau Rokiah. Ia telah menggeluti pekerjaan ini sejak muda. Upah yang ia terima tidak menentu; untuk satu kilogram kerang kupas, ia dibayar Rp 3.000. Dalam sehari, rata-rata ia hanya mampu membawa pulang Rp 30.000 hingga Rp 40.000.

"Buat makan saja ngepas, boro-boro buat bangun rumah," tuturnya.

Oleh karena itu, ketika tawaran bantuan rumah panggung datang, Rokiah menerimanya dengan penuh syukur karena rumah lamanya sudah nyaris roboh.

Kini, kehidupan Rokiah berubah drastis. Rumah panggung kokoh telah menggantikan gubuk tripleksnya. Struktur rumah yang tinggi membuatnya aman dari jangkauan air pasang.

Rokiah juga mengungkapkan bahwa ia menempati rumah tersebut tanpa dipungut biaya.

"Rumah gratis, lampu (listrik) juga gratis pakai tenaga surya. Yang bayar cuma air, sebulan sekitar Rp 108.000," jelasnya.

Meski merasa jauh lebih aman dan nyaman, Rokiah memiliki sedikit catatan terkait hunian barunya. Mengingat struktur rumah panggung yang tinggi, ia mengaku bangunan terasa sedikit bergoyang saat ada aktivitas atau angin kencang.

"Memang alhamdulillah aman, tapi ya ada goyang-goyangnya sedikit. Harapannya sih ke depan bagian bawahnya bisa ditembok atau dipasang fondasi semen biar lebih kuat dan enggak keropos lama-lama," harap Rokiah.

Terlepas dari kekurangan tersebut, bagi Rokiah, rumah panggung ini adalah anugerah yang membebaskannya dari rutinitas begadang menjaga barang dari air bah. Program ini menjadi bukti nyata perbaikan kualitas hidup bagi warga pesisir yang selama ini terpinggirkan oleh kondisi alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....