Rokiah, Hidup Tenang di Rumah Panggung Muara Angke

  • 08 Mar 2026 12:02 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Senyum lega kini terpancar dari wajah Rokiah (60), seorang warga Muara Angke, Jakarta Utara. Selama dua tahun terakhir, ia akhirnya bisa merasakan tidur nyenyak tanpa perlu khawatir air laut pasang (rob) merendam tempat istirahatnya.

Rokiah merupakan salah satu penerima manfaat program rumah panggung yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) di kawasan tersebut. Sebelum menempati hunian layak ini, Rokiah menghabiskan 40 tahun hidupnya di rumah semi permanen berbahan tripleks yang tak kuasa menahan ganasnya banjir rob.

Kepada pewarta, Rokiah menceritakan betapa sulitnya kondisi hidupnya sebelum rumah panggung berdiri. Banjir rob adalah tamu tak diundang yang datang setiap hari, membawa sampah dan ketakutan.

"Dulu banjir tiap hari, enggak bisa tidur, sampah banyak. Giliran mau istirahat, air datang. Ya sudah, duduk saja di bale-bale nungguin air surut," kenang Rokiah saat ditemui di kediamannya, Minggu 8 Maret 2026.

Tak hanya masalah air, kondisi rumah lamanya yang kian amblas karena peninggian jalan membuatnya hidup dalam kecemasan.

"Kalau ditinggikan (diurug), atapnya makin pendek sampai saya nunduk-nunduk. Kalau air datang malam, saya pakai sepatu boots terus duduk diam. Takut ada ular," ujarnya.

Sebagai seorang pengupas kerang hijau, merenovasi rumah adalah impian yang sulit dijangkau Rokiah. Ia telah menggeluti pekerjaan ini sejak muda, mengikuti jejak teman-temannya yang merantau ke Jakarta.

Upah yang ia terima tidak menentu. Untuk satu kilogram kerang kupas, ia dibayar Rp 3.000. Dalam sehari, rata-rata ia hanya mampu membawa pulang Rp 30.000 hingga Rp 40.000.

"Buat makan saja ngepas, boro-boro buat bangun rumah," tuturnya.

Oleh karena itu, ketika tawaran bantuan rumah panggung dari Kemhan datang dua tahun lalu, Rokiah tanpa ragu menerimanya. Kondisi rumah lamanya saat itu memang sudah nyaris roboh dan tidak layak huni.

Kini, kehidupan Rokiah berubah drastis. Rumah panggung kokoh telah menggantikan gubuk tripleksnya. Struktur rumah yang tinggi membuatnya aman dari jangkauan air pasang.

"Alhamdulillah, sekarang aman. Tidur bisa nyenyak, enggak kayak dulu yang baru jam 1 atau 2 pagi bisa tidur nunggu surut," ungkapnya penuh syukur.

Meski profesinya masih sama dan penghasilannya sederhana, Rokiah merasa kualitas hidupnya jauh membaik. Ia tak perlu lagi begadang menjaga barang-barang dari air bah atau merasa was-was akan binatang berbisa saat air laut naik ke daratan.

Rumah panggung di Muara Angke ini menjadi bukti nyata bagaimana perbaikan infrastruktur hunian dapat mengangkat harkat dan kenyamanan hidup warga pesisir yang selama ini terpinggirkan oleh kondisi alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....