Pasar Ular: Dulu Diserbu Artis, Kini Bertahan Digempur Online
- 28 Feb 2026 14:06 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Lorong Pasar Ular Plumpang, Jakarta Utara, kini terasa lebih lengang. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan tiga dekade lalu, saat pasar barang impor ini menjadi primadona hingga membuat pengunjung harus berdesak-desakan.
Maman (59), salah satu pedagang senior yang telah berjualan selama 30 tahun di lokasi tersebut, menjadi saksi hidup perubahan drastis Pasar Ular.
Di lapaknya yang menjajakan tas, sepatu, kacamata, hingga koper impor, Maman mengenang masa kejayaan pasar tersebut di era 1990-an.
Menurut Maman, puncak keramaian Pasar Ular terjadi sekitar tahun 1995, tepat di era pemerintahan Presiden Soeharto. Kala itu, pasar ini bukan hanya sekadar tempat belanja, melainkan destinasi bergengsi yang kerap dikunjungi artis papan atas.
"Zaman Pak Harto itu pengunjung dari ujung ke ujung sampai macet. Padat sekali," kenang Maman.
Maman menyebutkan saat itu banyak artis datang, seperti Rhoma Irama, Elvy Sukaesih, Mancur S, sampai Jaja Miharja. Mereka beli baju, ikat pinggang, dompet, sampai parfum.
Pada masa itu, Maman mengaku bisa mengantongi pendapatan bersih di atas Rp2 juta setiap harinya secara konsisten. Daya tarik utama Pasar Ular terletak pada tata letak lorong yang lurus dan suasana yang sejuk karena banyaknya pepohonan di pinggir kali, serta tentu saja kualitas barang impor yang sulit ditemukan di tempat lain.
Maman menuturkan bahwa grafik pengunjung mulai menunjukkan tren penurunan sejak tahun 2001. Situasi semakin parah ketika pandemi COVID-19 menghantam pada tahun 2020.
"Sekarang ada saja yang beli, tapi tidak seramai dulu. Mulai turun itu tahun 2001, mungkin karena faktor gaji atau daya beli. Terus dihajar Corona tahun 2020," ujarnya.
Meski demikian, harga barang yang ditawarkan Maman tetap kompetitif untuk kelas barang branded impor. Kacamata dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp300 ribu, sementara tas impor dijual di kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta.
Menghadapi gempuran era digital di mana pasar fisik semakin ditinggalkan, Maman tidak menyerah. Ia menyadari bahwa persaingan dengan toko online (e-commerce) sangat ketat.
Untuk menyiasatinya, Maman kini dibantu oleh anaknya, Anggi Kurniawan, untuk memasarkan dagangan secara digital. Strategi "jemput bola" ini dilakukan agar dapur tetap ngebul.
"Anak saya bantu jualan online sambil dia kerja. Jadi pendapatan ada saja, alhamdulillah. Kalau barang kita bagus, meskipun ada saingan online, pembeli pasti tetap ada," pungkas Maman optimis.
Maman adalah potret ketangguhan pedagang konvensional yang mencoba beradaptasi. Di tengah sunyinya lorong Pasar Ular hari ini, harapan untuk terus menyambung hidup dari barang-barang impor berkualitas itu tetap menyala.
Baca Juga : Potret Pedagang Pasar Ular, Omzet Jutaan Tinggal Kenangan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....