Angklung Jawa Barat Terus Mendunia
- 11 Feb 2026 11:32 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID.Jakarta - Seni tradisi Angklung dari Jawa Barat kembali menjadi perbincangan hangat dalam program Apresiasi Budaya Sunda di Pro 4 Radio Republik Indonesia Jakarta. Selasa, (10/2/2026).
Dalam dialog yang dipandu host Kang Atep Gunawan dan Teh Suwartini, narasumber Rusmana, S.Sn, seorang praktisi seni Sunda, menyampaikan pandangannya melalui sambungan telepon mengenai kiprah angklung yang kini semakin mendunia. Menurut Rusmana, perjalanan angklung bukan sekadar transformasi alat musik bambu, melainkan perjalanan identitas dan kebanggaan budaya masyarakat Jawa Barat.
Rusmana menegaskan bahwa angklung telah lama menjadi simbol harmoni dan kebersamaan. “Setiap nada dalam angklung tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus dimainkan bersama, selaras, dan saling mengisi. Filosofi inilah yang membuat angklung mudah diterima di berbagai negara,” ujarnya. Ia juga menyinggung pengakuan dunia terhadap angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tahun 2010, yang menjadi momentum penting dalam diplomasi budaya Indonesia. Sejak saat itu, angklung semakin sering tampil di forum internasional, festival seni, hingga panggung pertunjukan lintas negara.
Dalam perbincangan tersebut, Rusmana turut mengapresiasi peran sanggar-sanggar seni di Jawa Barat yang konsisten melakukan regenerasi. Salah satu yang ia sebut adalah Saung Angklung Udjo di Bandung, yang dinilai berhasil mengemas pertunjukan angklung secara edukatif dan atraktif bagi wisatawan mancanegara. “Di sana, angklung tidak hanya dipentaskan, tetapi juga diajarkan. Pengunjung diajak memainkan langsung, merasakan getaran bambu yang sederhana namun sarat makna,” tuturnya.
Lebih jauh, Rusmana melihat perkembangan angklung saat ini semakin kreatif. Kolaborasi dengan musik modern, orkestra, bahkan genre pop dan jazz membuat angklung mampu menembus batas generasi. Ia menilai inovasi tersebut bukan bentuk penghilangan nilai tradisi, melainkan strategi adaptasi agar tetap relevan. “Selama ruhnya tetap dijaga, angklung akan selalu punya tempat, baik di desa maupun di panggung dunia,” katanya optimistis.
Menutup perbincangan, Rusmana mengajak generasi muda untuk tidak ragu mencintai dan mempelajari seni tradisi daerahnya sendiri. Ia berharap media seperti RRI terus menjadi ruang apresiasi dan edukasi budaya. “Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi? Angklung sudah mendunia, sekarang tugas kita memastikan ia tetap berakar di tanah Sunda,” tuturnya. Dialog hangat tersebut pun menjadi pengingat bahwa dari bilah-bilah bambu sederhana, lahir harmoni yang mampu menyatukan dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....