Mengenal Idangan Kambangan: Tradisi Makan Perempuan Palembang
- 10 Feb 2026 22:47 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta -Masyarakat Palembang memiliki kekayaan tradisi kuliner yang sarat makna, salah satunya adalah Idangan Kambangan. Tradisi makan bersama peninggalan masa Kesultanan Palembang Darussalam ini kini kembali diperkenalkan sebagai bagian penting dari warisan gastronomi yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan modern.
Idangan kambangan biasanya dilaksanakan saat acara munggah, yaitu sehari setelah pesta pernikahan. Keunikan utama tradisi ini terletak pada pesertanya yang eksklusif, di mana hanya kaum perempuan yang diperbolehkan hadir. Acara ini menjadi ruang silaturahmi bagi para perempuan yang tidak sempat hadir pada hari resepsi pernikahan.
Ketua MGMP Sejarah SMA–SMK Provinsi Sumatera Selatan, Eva Yenna, menjelaskan bahwa terdapat aturan ketat terkait kehadiran dalam prosesi ini. "Uniknya tradisi ini hanya dihadiri oleh kaum perempuan, bahkan kaum laki-laki tidak diperbolehkan hadir pada acara munggah tersebut," ujar Eva Yenna dalam dialog Suara Budaya Nusantara edisi 9 Februari 2026.
Dalam penyajiannya, Idangan Kambangan terdiri dari unsur tunjungan, botekan, dan pinggiran. Hidangan yang disajikan pun sangat istimewa, mulai dari kue Maksuba, Lapis Legit, hingga kue langka seperti Engkak Kicut dan Engkak Medok. Selain sebagai jamuan, jenis makanan yang dihidangkan pada masa lalu juga menjadi penanda strata sosial di masyarakat.
Namun, tantangan modernisasi dan gaya hidup praktis membuat tradisi yang dianggap rumit ini mulai ditinggalkan. Melalui edukasi budaya, diharapkan masyarakat kembali memahami bahwa Idangan Kambangan bukan sekadar urusan makan, melainkan simbol kebersamaan dan tata krama sosial yang menjadi identitas luhur wong Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....