Rowahan Betawi: Tradisi Kirim Doa dan Silaturahmi
- 10 Feb 2026 22:41 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Memasuki bulan Sya’ban dalam penanggalan Hijriah, masyarakat Betawi memiliki tradisi turun-temurun yang masih terjaga kuat hingga kini, yakni Rowahan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Rowahan biasanya diisi dengan pembacaan doa, tahlil, dan zikir bersama di masjid maupun rumah-rumah warga. Ciri khas yang paling kental dari Rowahan Betawi adalah penyajian makanan secara prasmanan atau "nampan" yang berisi nasi kebuli, semur daging, hingga berbagai kue tradisional seperti kue cucur dan dodol.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa Rowahan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan memiliki dimensi sosial yang mendalam dalam mempertemukan keluarga besar yang jarang berkumpul. "Rowahan itu intinya adalah penghormatan kepada orang tua dan leluhur yang sudah mendahului kita. Di situ ada nilai sedekah dan silaturahmi. Orang Betawi menganggap ini momen penting untuk membersihkan hati sebelum puasa," ujar Yahya Andi Saputra sebagaimana dilansir dari laman resmi ANTARA News.
Selain doa bersama, tradisi ini juga identik dengan kegiatan "Ziarah Kubur" atau nyekar ke makam keluarga. Di beberapa wilayah Jakarta, Rowahan juga diikuti dengan pembagian berkat atau besek makanan kepada tetangga sekitar sebagai simbol berbagi kebahagiaan.
Meskipun Jakarta telah berkembang menjadi kota megapolitan, tradisi Rowahan tetap eksis sebagai pengingat akar budaya. Kehadiran Rowahan membuktikan bahwa bagi masyarakat Betawi, memuliakan orang tua dan menjaga hubungan baik dengan sesama adalah pondasi utama dalam menjalani kehidupan beragama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....