Festival Bandeng, Warisan Budaya Warga Rawabelong
- 10 Feb 2026 22:39 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Menjelang perayaan Imlek, kawasan Rawabelong, Jakarta Barat, mendadak berubah menjadi lautan "perak". Ribuan ikan bandeng berukuran raksasa dipajang di sepanjang trotoar, menandai dimulainya Festival Bandeng—sebuah tradisi tahunan masyarakat Betawi yang memadukan gengsi sosial, bakti kepada orang tua, dan indahnya toleransi.
Bagi warga Betawi, khususnya di wilayah Jakarta Barat dan Selatan, bandeng bukan sekadar hidangan meja makan. Membeli bandeng dengan ukuran "jawara" (mencapai 5–10 kg) adalah sebuah keharusan bagi seorang menantu untuk dihantarkan kepada mertua atau orang tua. Tradisi ini dianggap sebagai simbol penghormatan sekaligus bukti kemapanan ekonomi sang menantu dalam setahun terakhir.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang sangat unik antara masyarakat Betawi dan Tionghoa yang sudah berlangsung sejak lama. "Ikan bandeng itu bagi masyarakat Betawi di Rawabelong dan sekitarnya adalah simbol kemakmuran. Meski mereka tidak merayakan Imlek secara ritual, namun secara kultural mereka ikut memeriahkan dengan tradisi hantaran bandeng ini. Ini adalah bukti nyata kerukunan antar-etnis di Jakarta," ujar Yahya Andi Saputra sebagaimana dikutip dari laman resmi ANTARA News.
Kemeriahan festival ini juga menjadi penggerak ekonomi luar biasa bagi pedagang musiman. Para pedagang yang datang dari berbagai penjuru, seperti Muara Baru hingga Tangerang, membawa stok bandeng terbaik yang sengaja dipelihara selama hampir setahun penuh untuk mencapai ukuran jumbo.
Harga yang dibanderol pun cukup fantastis, bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per ekor. Namun, bagi masyarakat Betawi, harga tersebut sebanding dengan nilai "harga diri" dan kebahagiaan saat melihat mertua tersenyum menerima hantaran tersebut.
Di tengah gempuran modernitas, Festival Bandeng Rawabelong tetap tegak berdiri sebagai identitas kota. Ia bukan hanya sekadar pasar ikan musiman, melainkan ruang perjumpaan budaya yang mengingatkan warga Jakarta akan pentingnya menjaga akar tradisi dan tali silaturahmi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....