Ada Udara Kabur di Jakarta, Ini Penjelasannya
- 16 Okt 2025 11:29 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Fenomena udara kabur di Jakarta muncul dalam prakiraan cuaca resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG. Di laman bmkg.go.id, kondisi “udara kabur” tercatat di sejumlah titik seperti Gambir, Petojo Utara, Petojo Selatan, dan Kebon Kelapa, dengan suhu maksimum 32 derajat Celsius.
Udara kabur bukan istilah baru di meteorologi, namun kini menjadi istilah itu menarik perhatian karena muncul di tengah cuaca panas yang dalam tiga hari terakhir menyengat. Dalam tayangan YouTube @InfoBMKG Weekly Weather Outlook Episode 42, BMKG yang kami akses pada Rabu 15 Oktober 2025 menjelaskan bahwa udara kabur terjadi akibat partikel kecil kering yang melayang di atmosfer bawah, mengurangi jarak pandang dan memantulkan sinar matahari.
“Udara kabur bisa disebabkan oleh kabut, asap, atau debu. Namun di kota besar seperti Jakarta, faktor utama biasanya berasal dari haze atau polusi udara,” ujar Gumilang Dwi Cahyo, narator BMKG dalam tayangan tersebut.
BMKG mengurai bahwa haze berasal dari partikel-partikel kering hasil pembakaran mesin kendaraan, pembangkit energi, dan aktivitas industri. Kondisi ini diperparah oleh fenomena inversi suhu, yakni ketika suhu udara di lapisan bawah lebih dingin dibanding lapisan atas, sehingga partikel polutan terperangkap di bawah dan sulit naik ke atmosfer.
“Pada kondisi inversi, udara kotor dan panas terperangkap di lapisan bawah, itulah sebabnya langit tampak kelabu di pagi hari,” kata Gumilang.
Menurut data BMKG, wilayah Jakarta Pusat pada Rabu 15 Oktober 2025 mengalami suhu maksimum hingga 33°C dengan kelembapan relatif antara 56–86 persen. Minimnya tutupan awan juga membuat pemanasan berlangsung optimal sejak pagi hingga siang hari.
Dalam konteks Jakarta, fenomena ini menjadi cerminan dari rapatnya bangunan kota dan padatnya aktivitas transportasi. Gedung-gedung tinggi menghalangi aliran udara yang seharusnya membantu menyapu polutan, sehingga udara terjebak di lapisan bawah atmosfer.
BMKG menegaskan, masyarakat tidak perlu panik, namun perlu waspada terhadap kualitas udara yang menurun. “Udara kabur bisa menandakan kadar polutan meningkat. Warga disarankan memakai masker saat beraktivitas di luar, terutama pagi hari,” ucap Gumilang dalam tayangan BMKG.
(Syahrian Arzaky Wiguna - Universitas Bung Karno Jakarta berkontribusi menyusun artikel ini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....