Tradisi Adat Pernikahan Batak Simalungun

  • 14 Okt 2025 10:22 WIB
  •  Jakarta

KBRN,Jakarta: Dalam acara Apresiasi Budaya Batak yang disiarkan langsung melalui PRO 4 RRI Jakarta pada Senin, 13 Oktober 2025, Ir. Sardianton Parulian Purba selaku Wakil Ketua Umum Batak Center tampil sebagai narasumber utama. Acara yang dipandu dengan hangat oleh penyiar sekaligus host Dermawan itu menghadirkan suasana penuh kekeluargaan dan kebanggaan budaya. Dalam perbincangan tersebut, Sardianton mengupas secara mendalam filosofi dan tahapan adat pernikahan Batak Simalungun yang sarat dengan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan, serta keseimbangan hidup. “Adat pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga peristiwa sosial yang mengikat tali persaudaraan antar marga,” ujarnya di awal dialog.

Dalam penuturannya kepada Dermawan, Sardianton menjelaskan tahapan awal adat pernikahan yang disebut marhori-hori dinding, yaitu proses penjajakan antara kedua keluarga. Setelah itu dilanjutkan dengan marpudun saut, sebuah pertemuan resmi untuk menyepakati mahar, waktu, dan tata pelaksanaan upacara. Ia menegaskan bahwa dalam adat Simalungun, seluruh keputusan diambil dengan musyawarah, melibatkan keluarga besar dan para tetua adat. “Inilah esensi budaya kami — musyawarah, saling menghormati, dan tidak ada keputusan yang diambil secara sepihak. Semua dilakukan dengan restu dan kesepakatan bersama,” jelasnya di tengah suasana bincang yang penuh makna.

Lebih lanjut, Sardianton menguraikan tahap puncak prosesi adat yang disebut Pamasu-masuon, yakni pemberkatan dan doa restu kepada kedua mempelai. Dalam prosesi ini, pemberian ulos menjadi simbol kasih sayang, doa perlindungan, dan harapan untuk kehidupan rumah tangga yang sejahtera. “Setiap ulos memiliki arti dan doa yang berbeda. Ia menjadi tanda bahwa kedua insan kini telah diterima dalam lingkaran keluarga besar dan siap mengarungi kehidupan bersama dengan restu leluhur,” terang Sardianton yang disimak dengan antusias oleh host Dermawan dan para pendengar.

Sebagai Wakil Ketua Umum Batak Center, Sardianton juga menyoroti pentingnya pelestarian adat di tengah arus globalisasi. Ia menjelaskan bahwa lembaganya aktif mengadakan kegiatan edukatif, pelatihan, dan sosialisasi budaya kepada generasi muda Batak. “Kami ingin generasi muda tidak hanya tahu tarian dan lagu daerah, tetapi juga memahami filosofi adatnya. Karena di sanalah nilai moral dan karakter Batak yang sebenarnya tumbuh,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa pelestarian budaya adalah bentuk penghargaan terhadap identitas bangsa.

Menutup dialog budaya bersama Dermawan, Sardianton Parulian Purba menyampaikan pesan inspiratif bahwa menjaga adat pernikahan Batak Simalungun berarti menjaga akar kebangsaan. “Budaya adalah napas bangsa. Bila kita lestarikan adat, maka kita sedang memperkuat jati diri Indonesia,” ucapnya disambut tepuk tangan para hadirin di studio RRI Jakarta. Melalui dialog yang hangat dan sarat makna ini, acara Apresiasi Budaya Batak tidak hanya menjadi wadah hiburan, tetapi juga ruang refleksi tentang pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah dunia modern yang terus berubah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....