Menelusuri Pelestari Songkok Recca dari Bone
- 08 Apr 2025 14:04 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Setiap daerah memiliki khazanah yang digunakan baik kalangan umum maupun bangsawan sebagi simbol suatu daerah. Seperti penggunaan Songkok Recca simbol budaya Bugis Bone yang telah digunakan sejak zaman para raja.
Menelusuri sentra pembuatan songkok bersejarah ini tidak lengkap jika tidak mengunjungi Kecamatan Awangpone, berbatasan dengan kota Bone di sebelah utara Bone sekitar 9 km dari kota, di daerah ini kita bisa melihat beberapa desa penghasil Songkok Recca seperti, Desa Paccing dan Desa Matuju.
Kebanyakan masyarakat di Kecamatan Awangpone ini sudah ahli dan tahu cara menenun Songkok Recca' yang terbuat dari pelepah daun lontar. Pembuatannya sangat unik dengan cara dipukul (dalam bahasa Bugis: direcca-recca) itulah mengapa benda bersejarah ini disebut Songkok Recca.

Ketika RRI Jakarta melihat salah satu sentra pembuatan yang kebanyakan dilakukan secara rumahan ini, pembuatan songkok recca’ masih menggunakan teknik manual, menjadikan songkok recca’ ini mempunyai nilai lebih tersendiri.
Untuk harga, para pembeli tidak usah khawatir, sebab harga bervariatif dari Rp70.000,- Rp 150.000,- hingga Rp 2.500.000,- tergantung pemesanan, motif dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Daeng Darma yang telah menekuni sebagai pengrajin Songkok Recca selama 30 tahun menjelaskan bahwa kerajinan ini didapat turun temurun dari keluarganya. Tidak banyak yang dia produksi di bulan-bulan biasa, namun, mendekati bulan Ramadhan pemesanan meningkat.
"Bulan puasa hingga mendekati lebaran, jumlah pemesanan meningkat, " ujar Daeng Darma. Selasa (8/4/2025).
Menurut Daeng Darma pembuatan Songkok Bone kini telah mengalami banyak perubahan, namun tidak mengurangi fungsinya. Pada zamannya pembuatan songkok ini dibuat dari pelepah lontar dan benang emas, saat ini songkok Recca sudah dibuat dari tembaga.
Songkok Recca’ telah menjelma menjadi bagian yang tidak bisa terlepaskan dari masyarakat Bone. Meski songkok recca‘ telah dipakai oleh masyarakat umum, namun hal itu tidak mengurangi nilai songkok recca’ itu sendiri karena faktor sejarahnya yang panjang sehingga songkok recca’ ini menjadi ikon bagi Kabupaten Bone.
Saat ini Songkok Recca merupakan kearifan lokal berupa penutup kepala yang dikenakan para bangsawan Bugis Kabupaten Bone dengan warna dan bahan yang khas serta sejarah dan filosofinya. Perkembangan industri songkok recca telah dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Bone secara turun temurun.
Songkok Recca yang bermotif lapisan emas dikenal juga dengan nama Songkok Pamiring. Pada zaman kerajaan Bugis, benang emas yang melilit Songkok Pamiring mempunyai arti yaitu semakin tinggi lingkaran emasnya, tandanya semakin tinggi pula kebangsawanan pemakainya, hanya tersisa sekitar satu sentimeter saja tanpa balutan emas. Pada saat itu ada aturan yang berlaku bagi pemakai Songkok Pamiring, dimana para bangsawan tinggi atau mereka yang menjadi raja dan juga bagi putra raja yang dianggap berdarah biru (Maddara Takku), putra Mattola, boleh menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari bahan murni benang emas.
Sejak tahun 2018 Songko` Recca telah resmi menjadi warisan budaya tak benda Indonesia berdasarkan penetapan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sebagai. Songko` Recca atau Songko To Bone salah satu karya budaya masyarakat Bone.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....