Akal Sehat, Hati Bersih: Kunci Akhlak Mulia di Akhir Ramadan
- 18 Mar 2026 09:56 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Akal sehat mendorong manusia merenungi ciptaan Allah dan bersyukur.
- Hati yang bersih menentukan baik buruknya perilaku dan ucapan.
- Menjaga lisan dan memperbanyak amal saleh menjadi kunci keselamatan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Manusia dibedakan dari makhluk lain melalui akal, hati, amal, dan lisan yang dikelola dengan baik. Dalam kajian Mutiara Pagi di radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, nilai-nilai ini menjadi kunci membentuk akhlak mulia, terutama di penghujung Ramadan.
Kajian yang disampaikan oleh ustazah Lilis Nurul, Penyuluh Agama Kementerian Agama Jakarta Selatan, menekankan pentingnya akal sebagai pembeda utama manusia dengan hewan. Ia merujuk pada Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 190 tentang tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang berakal. “Orang yang berpikir dengan akal sehat akan mampu menikmati dan merenungi ciptaan Allah,” ujar Lilis pada Rabu, 18 Maret 2026.
Menurutnya, akal yang bersih akan melahirkan perilaku yang baik, sementara akal yang kotor berpotensi melahirkan akhlak buruk. Ia menegaskan bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia, termasuk kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di akhir Ramadan. “Boleh jadi sesuatu yang menurut kita tidak baik, justru baik menurut Allah,” ucapnya.
Selain akal, hati menjadi faktor penentu dalam kehidupan manusia. Lilis menjelaskan bahwa hati yang kotor akan memengaruhi seluruh perilaku dan ucapan seseorang. “Jika hati rusak, maka seluruh anggota tubuh akan ikut rusak,” kata uastazah Lilis menjekaskan.
Ia membagi kondisi hati menjadi tiga, yakni qolbun salim (hati yang bersih), qolbun marid (hati yang sakit), dan qolbun mayit (hati yang mati). Hati yang bersih ditandai dengan prasangka baik, sedangkan hati yang sakit harus segera diobati agar tidak memburuk. “Hati yang mati tidak bisa menerima nasihat dan menganggap semua sebagai angin lalu,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, Lilis juga menekankan pentingnya amal saleh sebagaimana tercantum dalam Surat Al Ashr. Ia menyebut manusia akan merugi jika tidak mengisi waktunya dengan iman dan amal baik. “Orang yang tidak merugi adalah mereka yang beriman dan beramal saleh,” ucapnya.
Lisan juga menjadi perhatian penting dalam pembentukan akhlak. Ia mengingatkan agar umat menjaga ucapan, menghindari celaan, dan tidak menyakiti orang lain. “Jika tidak mampu berkata baik, maka lebih baik diam karena diam adalah keselamatan,” ujar Lilis.
Di akhir kajian, ia mengajak masyarakat memperbanyak syukur dan zikir untuk menjaga ketenangan hati. Ia menegaskan bahwa keluhan justru mendatangkan kesulitan, sementara syukur akan menambah nikmat. “Syukur dan mengeluh itu tipis bedanya, tapi dampaknya sangat besar dalam hidup manusia,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....