Ramadan Mengajarkan Kesalehan Sosial Melalui Akhlak Mulia Rasulullah

  • 10 Mar 2026 13:28 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan ibadah secara pribadi, tetapi juga sebagai momentum membangun kepedulian sosial dan memperkuat akhlak kepada sesama. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW selama menjalani ibadah puasa.

Hal itu disampaikan Dai Ambasador Dompet Dhuafa, Firdaus Sanusi, dalam program Syiar Ramadan di Radio 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Sabtu, 7 Maret 2026. Menurutnya, Ramadan sering kali dipahami sebatas memperbanyak ibadah personal seperti salat, puasa, atau membaca Al-Qur’an.

“Memang benar Ramadan mendorong kita memperbanyak amal saleh secara individu. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa Ramadan juga mengarahkan kita untuk menjadi pribadi yang saleh secara sosial,” ujarnya.

Firdaus menjelaskan, tujuan puasa dalam Ramadan adalah mencapai ketakwaan. Dalam Al-Qur’an, ciri-ciri orang bertakwa tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga perilaku sosial yang baik kepada sesama.

Ia mencontohkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133–134 yang menyebutkan karakter orang bertakwa, di antaranya gemar berinfak baik saat lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, serta memaafkan orang lain.

Menurut Firdaus, Ramadan menjadi sarana pendidikan spiritual yang mengajarkan manusia merasakan penderitaan orang lain. Saat berpuasa, seseorang menahan lapar dan haus sehingga dapat merasakan kondisi mereka yang kurang beruntung.

“Kesadaran dari rasa lapar itu seharusnya berubah menjadi pertanyaan, siapa lagi yang lapar hari ini? Dari situ muncul empati yang mendorong kita untuk berbagi,” jelasnya.

Ia menambahkan, Ramadan juga melatih umat Islam untuk menjadi pribadi yang dermawan. Salah satu mekanismenya adalah melalui kewajiban zakat fitrah serta anjuran memperbanyak sedekah.

Bahkan, Rasulullah SAW memberikan motivasi khusus bagi umat Islam untuk memberi makan orang yang berbuka puasa. Orang yang memberikan makanan berbuka akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

“Ini dorongan luar biasa dari Rasulullah agar kita memiliki kerelaan berbagi dan tidak diperbudak oleh harta,” katanya.

Selain mendorong kepedulian sosial, Ramadan juga menjadi latihan untuk mengendalikan emosi. Firdaus menuturkan, Rasulullah mengajarkan agar orang yang berpuasa menahan diri ketika diprovokasi atau diajak bertengkar.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah menganjurkan seseorang yang sedang berpuasa untuk mengatakan “inni sha’im” atau “aku sedang berpuasa” ketika menghadapi caci maki atau ajakan berkelahi. Hal tersebut menjadi cara untuk memberi jeda sebelum meluapkan amarah.

“Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan amarah serta menjaga hati,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa memaafkan orang lain merupakan tingkat akhlak yang lebih tinggi dibanding sekadar menahan emosi. Memaafkan dapat membersihkan sisa-sisa kemarahan sehingga hubungan sosial kembali jernih tanpa dendam.

Firdaus mengatakan Ramadan juga mengajarkan pentingnya saling memaafkan karena manusia sama-sama membutuhkan ampunan dari Allah SWT. Kesadaran tersebut mendorong seseorang untuk melapangkan hati kepada sesama.

Menurutnya, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari kemampuan menahan lapar dan haus, tetapi dari perubahan sikap menjadi lebih lembut, peduli, dan penuh kasih kepada orang lain.

“Puasa yang berhasil adalah puasa yang mampu melunakkan hati terhadap sesama. Jika puasa belum membuat kita lebih peduli kepada orang lain, mungkin kita baru sekadar menahan lapar saja,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....